Dahulu, hiduplah seorang khalifah bernama Harun ar-Rasyid. Ia memimpin negeri yang sangat luas, dengan istana yang megah dan harta yang banyak.

Suatu hari, Harun memanggil seorang ulama zuhud bernama Ibn as-Sammak. Ia berkata, “Berilah aku nasihat yang singkat, tapi mengena di hati.”
Ibn as-Sammak pun berkata, “Aneh, dunia yang kecil dan sebentar ini bisa mengalahkan kita, padahal akhirat itu luas, kekal, dan tidak ada habisnya. Tapi justru akhirat itulah yang sering kita lalaikan.”

Harun terdiam. Hatinya tersentuh. Satu kalimat singkat itu cukup untuk mengingatkannya: kekuasaan dan harta hanyalah titipan sebentar, sedangkan akhirat adalah tempat kembali yang kekal.
Sejak hari itu, Harun semakin ingat bahwa seorang pemimpin harus menyiapkan bekal akhirat, bukan hanya sibuk mengumpulkan dunia.

Pesan untuk Kita
Jangan tertipu oleh dunia yang kecil dan sebentar. Akhirat itu luas dan kekal, dan justru di sanalah kita akan tinggal selamanya. Siapkan bekal sejak sekarang.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau sedang asyik bermain, ingatlah waktu belajar dan ibadah jangan sampai terlewat.
- Di rumah: sayangi barangmu, tapi jangan sampai barang membuatmu lupa berbagi dan berbuat baik.
- Di mana saja: sebelum melakukan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini berguna untuk akhiratku?”
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab az-Zuhd li Ibni Abi ad-Dunya, Juz 1, halaman 148; juga diriwayatkan dalam kitab al-Mujalasah wa Jawahir al-‘Ilm, Juz 8, halaman 57. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/8216?page=315 dan https://app.turath.io/book/9948?page=3617
Catatan kejujuran sumber: yang terverifikasi kuat adalah intinya, yaitu Harun meminta nasihat singkat dan Ibn as-Sammak memberi nasihat tentang dunia yang kecil dan fana berbanding akhirat yang luas dan kekal. Kalimat nasihat dalam cerita ini adalah parafrasa ramah anak dari inti tersebut, bukan kutipan kata per kata dari naskah.