Dahulu, pada masa Khalifah Umar bin Khathab, ada kebiasaan: tunjangan untuk anak dibayarkan setelah anak itu disapih, yaitu setelah berhenti menyusu. Karena itu, banyak ibu yang menyapih anaknya lebih cepat, supaya tunjangan segera dibayarkan.

Suatu malam, Umar sedang berjaga di luar kota, menjaga para pedagang yang sedang bermalam di perjalanan. Tiba-tiba, ia mendengar tangisan bayi. Tangisan itu terdengar lagi dan lagi, dari sebuah tenda.
Umar pun mendekati tenda itu dan bertanya kepada ibunya, “Mengapa bayimu menangis terus?”

Sang ibu menjawab dengan sedih, “Aku sedang menyapihnya lebih cepat, supaya ia segera mendapat tunjangan. Tapi ia masih lapar dan belum siap.”
Umar terdiam. Hatinya tergerak. Ia pun kembali dan keesokan harinya mengumumkan kepada semua orang: mulai sekarang, tunjangan anak dibayarkan SEJAK LAHIR, tidak perlu menunggu disapih.

Sejak hari itu, tidak ada lagi ibu yang terpaksa menyapih bayinya lebih cepat hanya karena butuh tunjangan. Dan tidak ada lagi bayi yang menangis kelaparan di tengah malam karena aturan yang memberatkan.
Pesan untuk Kita
Pemimpin yang baik mendengarkan tangisan rakyatnya, sekecil apa pun. Satu tangisan bayi di tengah malam saja cukup untuk mengubah aturan besar, kalau pemimpinnya mau mendengar dan mau memperbaiki.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau temanmu menangis atau kesulitan, jangan diabaikan, laporkan kepada guru.
- Di rumah: dengarkan adikmu yang masih kecil; tangisannya selalu punya sebab.
- Di mana saja: kalau ada aturan yang memberatkan orang lain, beranilah mengusulkan perbaikan dengan sopan.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz 7, halaman 266. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/30097?page=3412
Lihat naskah Arabnya
فبكى الصبي، فقال عمر: ما يبكيه؟ فقالت أمه: إني أفطمه قبل أوانه ليُفرض له