Suatu malam, Khalifah Umar bin Khathab berkeliling kota bersama pembantunya, Aslam. Mereka menjaga kota yang sudah sepi dan memastikan rakyatnya baik-baik saja.

Dari kejauhan, mereka melihat api unggun kecil. Di dekat api itu, ada seorang janda yang sedang memasak di atas kuali. Anak-anaknya menangis karena lapar.
Umar pun mendekat dan bertanya dengan lembut, “Wahai Ibu, apa yang sedang engkau masak?”
Sang janda menjawab dengan sedih, “Aku hanya memasak air, supaya anak-anakku tenang dan mengira makanan sedang dimasak, sampai mereka tertidur. Padahal di rumah kami sudah tidak ada makanan lagi.”

Hati Umar tergerak. Ia segera pulang mengambil tepung dan kurma, lalu memanggul karung itu sendiri di atas punggungnya. Aslam menawarkan diri untuk membawakan, tapi Umar berkata, “Biar aku yang memikul, karena aku yang akan ditanya tentang rakyatku di akhirat.”
Sesampainya di tenda, Umar memasak bersama sang janda sampai anak-anak itu kenyang. Tangis mereka berubah menjadi tawa. Umar pun pulang dengan hati lega, karena tidak ada lagi anak yang tidur dalam keadaan lapar malam itu.

Pesan untuk Kita
Pemimpin yang baik tidak hanya memerintah dari jauh, tapi turun langsung melihat rakyatnya. Ia memikul sendiri beban yang bisa ia pikul, dan tidak membiarkan satu anak pun tidur dalam keadaan lapar.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau temanmu belum makan atau kesulitan, beri tahu guru dan bantulah sebisamu.
- Di rumah: sayangi adikmu; kalau ia menangis, cari tahu sebabnya dan hiburlah ia.
- Di mana saja: kalau kamu mampu menolong, tolonglah sendiri dengan tanganmu, jangan hanya menyuruh orang lain.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab al-Bidayah wa an-Nihayah (edisi Turki), Juz 10, halaman 187. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/4445?page=5728
Lihat naskah Arabnya
فحمله على ظهره وانطلقنا