Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Bungkusan Kurma di Pundak

Bungkusan Kurma di Pundak
Bagikan Artikel

Suatu hari, Ali bin Abi Thalib pergi ke pasar Kufah. Ia membeli kurma manis seharga satu dirham. Ia membungkus kurma itu di ujung selendang jubahnya, lalu memanggulnya sendiri di pundak menuju rumahnya.

Orang-orang yang melihatnya merasa heran. Mereka berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarkan kami yang memanggulnya untukmu! Engkau adalah pemimpin kami, tidak pantas memanggul bungkusan sendiri.”

Pria dari belakang membeli kurma di pasar kota Kufah
Ali membeli kurma manis di pasar Kufah.

Ali tersenyum hangat. Ia menjawab dengan kalimat yang indah, “Seorang ayah kepala keluarga lebih berhak memanggul sendiri nafkah dan makanan manis untuk anak-anaknya tercinta.”

Orang-orang pun terdiam dan tersenyum. Mereka sadar, Ali tidak malu membawa belanjaan untuk keluarganya. Ia justru bangga, karena makanan itu akan dimakan anak-anaknya di rumah.

Pria memanggul bungkusan kain di pundak di jalan kota
Ali memanggul sendiri bungkusan kurmanya.

Di rumah, anak-anak menyambut kurma itu dengan gembira. Mereka makan bersama dengan senang hati. Bagi mereka, kurma itu terasa lebih manis, karena ayahnya sendiri yang membawanya pulang dengan penuh cinta.

Sejak hari itu, kisah ini menjadi pengingat bagi para ayah. Membawa nafkah untuk keluarga bukanlah pekerjaan yang merendahkan. Itu adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata.

Pria membawa bungkusan masuk ke rumah disambut anak-anak
Kurma itu dibawa pulang untuk anak-anak tercinta.

Kisah bungkusan kurma itu pun diceritakan di pasar dan di rumah-rumah Kufah. Banyak ayah menjadikannya teladan bahwa membawa nafkah sendiri untuk keluarga adalah kebanggaan, bukan sesuatu yang memalukan, karena di dalamnya ada cinta dan tanggung jawab.

Anak-anak itu pun tumbuh dengan kenangan manis itu. Mereka tahu, ayah mereka mencintai mereka bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan nafkah yang dibawanya pulang setiap hari.

Pesan untuk Kita

Seorang ayah tidak malu membawa nafkah untuk keluarganya. Membawakan makanan halal untuk anak adalah kasih sayang, bukan pekerjaan yang merendahkan.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau membawa bekal atau barang untuk teman, bawalah dengan senang hati, jangan malu hanya karena barangnya sederhana.
  • Di rumah: bantulah ayah atau ibu membawa belanjaan dari pasar atau warung, dan ucapkan terima kasih atas nafkah yang mereka bawa pulang.
  • Di mana saja: jangan mengejek orang yang membawa barang sendiri. Bisa jadi barang itu adalah rezeki untuk keluarganya yang ia cintai.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Jami al-Ahadits karya Jalaluddin al-Suyuthi, Juz 30, halaman 380. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/1438?page=14882

Lihat naskah Arabnya

رأيت عليا اشترى تمرا بدرهم فحمله فى ملحفته فقيل يا أمير المؤمنين ألا نحمله عنك فقال أبو العيال أحق بحمله