Abdullah bin Umar adalah sahabat yang sangat dermawan. Ia punya kebiasaan yang indah: apabila ada sesuatu dari hartanya yang ia sukai, ia justru memberikannya kepada orang lain. Ia juga gemar memberi hadiah kepada mereka yang rajin beribadah dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan. Baginya, memberi adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Suatu hari, beberapa kawan Ibnu Umar berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, sebagian orang itu sengaja tampak rajin beribadah hanya agar engkau memberi mereka hadiah.” Mereka khawatir Ibnu Umar dimanfaatkan oleh orang-orang yang berpura-pura baik. Teguran itu disampaikan dengan maksud menjaga, namun Ibnu Umar menjawabnya dengan hati yang jauh lebih lapang dari dugaan mereka.

Dengan tenang Ibnu Umar berkata, “Barang siapa mendekat kepada kami dengan nama Allah dan ketaatan kepada-Nya, kami rela menerimanya dengan baik.” Ia tidak mau berprasangka buruk kepada orang yang tampak berbuat baik. Baginya, lebih baik memberi dengan husnudzan daripada menahan kebaikan karena curiga. Sampai akhir hayatnya, Ibnu Umar dikenal sebagai orang yang memberi dengan lapang dan berprasangka baik kepada sesama. Kisah ini pun tersebar di kalangan para sahabat dan menjadi teladan, bahwa hati yang lapang dan prasangka yang baik adalah perhiasan akhlak yang jauh lebih indah daripada harta mana pun yang dimiliki seseorang.

Pesan untuk Kita
Berprasangka baik adalah pintu kebaikan. Orang yang husnudzan tidak mudah menuduh niat buruk orang lain, dan tidak menahan kebaikannya hanya karena curiga. Lebih baik memberi dan ternyata keliru, daripada menahan pemberian kepada orang yang sebenarnya tulus.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau ada teman yang tiba-tiba rajin dan baik, jangan langsung menuduhnya berpura-pura, tapi dukung dan doakan agar ia istiqamah.
- Di rumah: kalau adik atau kakak berbuat baik, balas dengan pujian yang tulus, bukan dengan curiga bahwa ia sedang menginginkan sesuatu.
- Di sekolah dan di rumah: biasakan memberi tanpa pamrih, misalnya meminjamkan alat tulis kepada teman yang membutuhkan, tanpa menghitung-hitung balasan.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab al-Arba’in fi Irsyad al-Sa’irin ila Manazil al-Muttaqin karya Abu al-Futuh al-Tha’i, Juz 1, halaman 109. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/26842?page=82
Lihat naskah Arabnya
فقيل له: إنهم يخدعونك، فيقول ابن عمر: من خدعنا بالله انخدعنا له