Kota Madinah pernah dilanda masa sulit. Makanan menipis, gandum untuk roti semakin sedikit, dan banyak anak yang perutnya lapar. Para orang tua cemas memikirkan esok hari. Di tengah kesulitan itu, kabar gembira pun datang dari gerbang kota: sebuah kafilah dagang besar sedang tiba, membawa tepung gandum, minyak, pakaian, dan segala kebutuhan warga.

Kafilah itu milik Abdurrahman bin Auf, sahabat yang dikenal sangat dermawan. Iring-iringan itu terdiri dari tujuh ratus ekor unta, berbaris panjang sambil memanggul muatan penuh. Begitu memasuki kota, gemuruh langkah unta itu terdengar ke seluruh penjuru, dan warga berkerumun menyaksikan kedatangannya. Semua orang tahu, muatan sebanyak itu bisa mengenyangkan banyak keluarga yang sedang kesulitan.

Sebelum unta-unta itu sempat beristirahat, Abdurrahman bin Auf mengambil keputusan yang membuat semua orang terharu. Ia menyatakan bahwa seluruh kafilah itu, beserta semua muatannya, ia serahkan di jalan Allah untuk warga Madinah. Bukan dijual dengan harga tinggi, melainkan dibagikan secara gratis kepada keluarga yang membutuhkan. Sejak hari itu, dapur-dapur kembali mengepul, anak-anak kembali tersenyum, dan doa keberkahan selalu menyertai Abdurrahman. Kabar kedermawanan itu pun tersebar ke seluruh penjuru kota, dan setiap keluarga yang menerima bantuan mendoakan Abdurrahman dengan tulus, agar hartanya semakin berkah dan kebaikannya dibalas berlipat ganda oleh Allah di dunia dan di akhirat.

Pesan untuk Kita
Orang yang dermawan tidak mencari untung di tengah kesusahan orang lain. Justru di masa sulitlah kedermawanan paling berharga: memberi saat semua orang kekurangan, dan percaya bahwa balasan Allah jauh lebih besar daripada laba dunia mana pun.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau ada teman yang tidak membawa bekal, bagilah bekalmu dengan ikhlas, tanpa mengungkit-ungkit pemberian itu.
- Di rumah: saat ada makanan lebih di rumah, ajak orang tua membagikannya kepada tetangga yang membutuhkan.
- Di sekolah dan di rumah: jangan menaikkan harga atau menahan barang saat teman sedang sangat membutuhkan, misalnya jangan menjual alat tulis dengan harga mahal kepada teman yang lupa membawanya.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Shuwar min Hayat al-Shahabah karya Abdurrahman Ra’fat al-Basya, Juz 1, halaman 254. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/30089?page=249
Lihat naskah Arabnya
قدمت عير عبد الرحمن بن عوف على المدينة، وكانت مؤلفة من سبعمائة راحلة، وهي تحمل على ظهورها الميرة والمتاع وكل ما يحتاج إليه الناس، فما إن دخلت المدينة حتى رجت الأرض بها رجا، فقال: أشهدك يا أمه أن هذه العير جميعها بأحمالها وأقتابها وأحلاسها في سبيل الله