Pasukan yang dipimpin sahabat Amr bin al-Ash sedang berkemah di sebuah lembah yang lapang di Mesir. Tenda-tenda kain berdiri berjajar di padang rumput hijau. Di tengah perkemahan itu berdirilah tenda sang panglima, tempat ia beristirahat dan mengatur pasukannya. Hari-hari di perkemahan berjalan tertib, dan semua orang bersiap untuk melanjutkan perjalanan saat perintah datang.

Suatu hari, perintah untuk berkemas dan membongkar tenda pun dikeluarkan. Semua orang mulai menggulung tali dan melipat kain tenda. Namun tiba-tiba, seorang prajurit datang melapor kepada Amr dengan suara pelan, “Wahai panglima, ada seekor burung merpati yang bertelur dan membuat sarang di puncak kain tendamu.” Semua orang terdiam. Jika tenda itu dibongkar, sarang itu akan rusak dan telur-telur itu akan pecah.

Amr bin al-Ash tidak ragu sedikit pun. Ia memerintahkan agar tendanya dibiarkan tetap berdiri, jangan dibongkar dan jangan diusik. “Burung ini telah berlindung dan menaruh kepercayaan pada kemah kita,” katanya. “Kita tidak boleh berbuat buruk kepada makhluk yang berlindung di sisi kita.” Tenda itu pun tetap berdiri tegak di tempatnya, sampai telur-telur itu menetas, anak-anak burung tumbuh besar, dan akhirnya terbang bebas ke angkasa. Kisah tenda itu pun diceritakan dari generasi ke generasi, sebagai pengingat bahwa panglima yang kuat sekalipun tetap lembut hatinya kepada makhluk Allah yang paling kecil.

Pesan untuk Kita
Kasih sayang tidak mengenal batas, bahkan kepada hewan yang lemah. Orang yang berjiwa besar tidak akan merusak tempat berlindung makhluk kecil demi kenyamanannya sendiri. Memberi rasa aman kepada makhluk Allah adalah akhlak yang mulia, dan Allah menyayangi orang yang menyayangi makhluk-Nya.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau menemukan sarang burung di pohon sekolah, jangan melemparinya atau mengambil telurnya, tapi laporkan kepada guru agar dilindungi.
- Di rumah: kalau ada kucing atau burung yang berteduh di halaman, beri ia ruang yang aman dan jangan mengganggunya.
- Di sekolah dan di rumah: biasakan berjalan dengan hati-hati di taman dan halaman, agar tidak menginjak sarang semut atau merusak tanaman kecil tempat hewan berlindung.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Kharidat al-‘Aja’ib wa Faridat al-Ghara’ib karya Ibn al-Wardi, Juz 1, halaman 87. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/3298?page=69
Lihat naskah Arabnya
أخبر أن حمامة باضت بأعلاه فأمر بترك الفسطاط على حاله لئلا يحصل التشويش للحمامة بهدم عشها وكسر بيضها، وأن لا يهدم حتى تفقس عن فراخها وتطيرهم، وقال: والله ما كنا لنسيء لمن لجأ بدارنا واطمأن إلى جانبنا