Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Makanan yang Dijaga Kehalalannya: Kisah Abu Bakar

Makanan yang Dijaga Kehalalannya: Kisah Abu Bakar
Bagikan Artikel

Abu Bakar adalah sahabat dekat Nabi yang sangat menjaga kehalalan makanannya. Setiap hari, seorang pembantu di rumahnya membawakan makanan. Abu Bakar biasa memakannya dengan tenang, karena selama ini makanan itu selalu berasal dari jalan yang baik.

Pria dari belakang duduk di depan mangkuk tanah liat di rumah batu
Abu Bakar biasa makan dengan tenang dari pemberian yang baik.

Suatu hari, pembantunya datang membawa makanan. Abu Bakar memakannya sedikit, lalu pembantunya bertanya, “Tahukah engkau dari mana makanan ini berasal?” Pembantunya lalu bercerita bahwa makanan itu adalah upah dari pekerjaan lamanya, yaitu meramal nasib orang lain. Pekerjaan meramal itu adalah pekerjaan yang dilarang, dan upahnya tidak halal.

Pria dari belakang meletakkan mangkuk sambil mendengarkan pembantunya
Ia bertanya dulu dari mana makanan itu berasal.

Mendengar itu, Abu Bakar langsung bersedih. Ia tidak mau makanan yang tidak halal itu tinggal di perutnya. Ia pun berusaha mengeluarkan makanan itu dari perutnya, sampai ia merasa sudah berusaha semaksimal mungkin. Abu Bakar berkata bahwa tubuh yang tumbuh dari yang haram tidak pantas dibiarkan begitu saja. Sejak itu, ia semakin berhati-hati. Sebelum makan, ia selalu memastikan dulu dari mana makanan itu berasal.

Pria dari belakang berdoa di serambi rumah pada waktu senja
Ia berhati-hati menjaga perutnya dari yang tidak halal.

Abu Bakar memang terkenal sangat jujur, sampai ia dijuluki Ash-Shiddiq, orang yang sangat membenarkan kebenaran. Karena itu, ia tidak pernah mau mengambil sesuatu yang tidak jelas halalnya, sekecil apa pun itu. Pembantunya pun menyesal dan menjelaskan bahwa pekerjaan itu ia lakukan dulu, sebelum ia mengenal Islam. Abu Bakar tidak marah kepadanya, karena pembantunya sudah jujur menceritakan yang sebenarnya. Yang membuat Abu Bakar bersedih adalah makanan itu sudah terlanjur ia makan tanpa ia tahu asalnya.

Pesan untuk Kita

Makanan yang halal itu penting, sama pentingnya dengan makanan yang bersih. Anak yang berhati-hati akan bertanya dulu sebelum menerima pemberian, apalagi kalau ia tidak tahu asalnya.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau ada teman menawarkan jajanan yang tidak jelas asalnya, tanyakan dulu dengan sopan, dan jangan langsung memakannya kalau ragu.
  • Di rumah: tanyakan kepada ayah dan ibu dari mana makanan itu dibeli, dan biasakan membaca basmalah sebelum makan.
  • Di mana saja: kalau sudah terlanjur makan sesuatu yang ternyata tidak baik, jangan malu mengaku kepada orang tua dan berjanji untuk lebih hati-hati.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Syarh Riyadh ash-Shalihin karya Ahmad Hathibah, Juz 44, halaman 11, yang menukil riwayat Bukhari dari Aisyah. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/36997?page=508

Lihat naskah Arabnya

كان لأبي بكر الصديق غلام يخرج له الخراج، وكان أبو بكر يأكل من خراجه، فجاء يوما بشيء، فأكل منه أبو بكر، فقال له الغلام: تدري ما هذا؟ فقال أبو بكر: وما هو؟ قال: كنت تكهنت لإنسان في الجاهلية، وما أحسن الكهانة إلا أني خدعته، فلقيني فأعطاني بذلك هذا الذي أكلت منه، فأدخل أبو بكر يده فقاء كل شيء في بطنه