Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Sepiring Kurma untuk Orang yang Menggunjing

Sepiring Kurma untuk Orang yang Menggunjing
Bagikan Artikel

Suatu hari, seorang murid datang kepada Imam Hasan al-Bashri dengan kabar yang tidak enak. Ia berkata bahwa ada seseorang di pasar yang sering membicarakan keburukan Imam Hasan di belakangnya. Orang itu menggunjing, yaitu membicarakan aib orang lain saat orang itu tidak ada. Kabar seperti itu biasanya membuat orang marah dan ingin membalas. Namun Imam Hasan tidak marah sama sekali. Ia justru tersenyum dan berpikir tentang balasan yang paling indah.

Piring tembikar berisi kurma basah yang ranum
Imam Hasan mengambil sepiring kurma basah yang paling manis di rumahnya.

Imam Hasan bangkit dan mengambil sepiring kurma basah yang paling manis dan ranum di rumahnya. Kurma itu adalah buah kesukaannya, segar dan menggiurkan. Ia membungkus piring itu dengan kain yang rapi, lalu meminta muridnya mengantarkannya ke rumah orang yang telah menggunjingnya. Murid itu terheran-heran, karena yang ia kira akan terjadi adalah kemarahan, bukan hadiah.

Murid mengantarkan bungkusan kurma ke pintu rumah
Piring kurma itu diantarkan ke rumah orang yang telah menggunjingnya.

Bersama piring kurma itu, Imam Hasan menitipkan pesan yang santun, “Kudengar engkau telah menghadiahkan pahala kebaikanmu kepadaku lewat ucapanmu, maka aku ingin membalas hadiah itu dengan kurma ini. Maafkan aku, karena aku tidak mampu membalas kebaikanmu dengan sempurna.” Orang yang menerima hadiah itu pun tersentuh dan menyesal. Ia belajar bahwa membalas keburukan dengan kebaikan jauh lebih kuat daripada membalas dengan kemarahan. Sejak hari itu, orang itu pun menjaga lisannya dengan lebih baik, karena ia telah merasakan sendiri betapa indahnya dibalas dengan kebaikan.

Pria memegang surat di ambang pintu rumahnya
Penerima hadiah itu tersentuh dan menyesali perbuatannya.

Pesan untuk Kita

Membalas keburukan dengan kebaikan adalah akhlak yang paling mulia. Ghibah memang merugikan pelakunya sendiri, karena pahalanya berpindah kepada orang yang digunjingkan. Orang yang bijak tidak sibuk membalas, melainkan menjawab dengan hadiah dan doa, sehingga permusuhan berubah menjadi penyesalan dan persaudaraan.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau ada teman yang membicarakanmu di belakang, jangan membalas dengan gunjingan juga, tapi sampaikan dengan baik atau laporkan kepada guru bila sudah keterlaluan.
  • Di rumah: kalau sedang kesal kepada saudara, tahan lisan dari mengumpat, lalu tawarkan bantuan atau makanan kecil sebagai tanda damai.
  • Di sekolah dan di rumah: biasakan menjaga lisan, yaitu tidak membicarakan aib teman saat ia tidak ada, dan segera menghentikan obrolan yang mengarah pada gunjingan.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Shaid al-Afkar fi al-Adab wa al-Akhlaq wa al-Hikam wa al-Amtsal karya Husain bin Muhammad al-Mahdi, Juz 1, halaman 493. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/8372?page=430

Lihat naskah Arabnya

روي عن الحسن البصري قال: إن رجلا قال: إن فلانا اغتابك فبعث إليه طبقة من الرطب، وقال: بلغني أنك أهديت إلي حسناتك، فأردت أن أكافئك عليها