Di kota Madinah, ada sekitar seratus keluarga miskin dan anak yatim yang setiap pagi menemukan kejutan di depan pintu rumah mereka. Sekantong makanan sudah tergeletak rapi di sana. Tidak ada nama pengirim dan tidak ada yang mengaku. Keluarga-keluarga itu pun bertanya-tanya, siapakah orang baik yang mengirim makanan ini setiap hari?
Pengirim misterius itu selalu bergerak di tengah malam, saat penduduk sudah terlelap. Ia memanggul karung makanan seorang diri di punggungnya, dari rumah ke rumah, tanpa meminta bantuan pelayan. Ia tidak ingin dilihat dan tidak ingin dipuji. Ia hanya ingin makanan itu sampai kepada yang membutuhkan.

Malam demi malam, tahun demi tahun, ia melakukan hal yang sama. Tidak ada yang tahu siapa dia. Orang-orang hanya tahu bahwa setiap pagi ada makanan di depan pintu mereka. Rasa syukur mereka pun mengalir kepada Allah, dan mereka mendoakan orang baik yang tidak dikenal itu.
Suatu hari, Ali Zainal Abidin wafat. Sejak hari itu, bantuan makanan di seratus pintu rumah itu tiba-tiba berhenti. Barulah orang-orang menyadari kebenaran yang selama ini tersembunyi. Pengirim misterius itu adalah Ali Zainal Abidin sendiri, cucu Nabi yang selama ini mereka kenal sebagai ahli ibadah.

Setelah beliau wafat, barulah diketahui jejak kerja kerasnya. Punggung beliau menyimpan bekas memanggul beban selama bertahun-tahun. Bekas itu menjadi saksi bisu bahwa sedekah terbaik adalah sedekah yang disembunyikan, yang dilakukan hanya untuk mencari rida Allah.
Kisah ini mengajarkan kita untuk memberi tanpa pamer. Sedekah tidak perlu diumumkan dan tidak perlu dipuji. Memberi dengan diam-diam justru lebih ikhlas, dan keikhlasan itulah yang membuat kebaikan bertahan lama.

Pesan untuk Kita
Sedekah yang paling ikhlas adalah sedekah yang disembunyikan. Memberi tanpa pamer menjaga hati dari riya dan membuat kebaikan terasa murni, baik bagi pemberi maupun penerima.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau ada kawan yang tidak membawa bekal, bagilah bekalmu dengan diam-diam tanpa mengumumkan kepada kelas bahwa engkau yang memberi.
- Di rumah: sisihkan sebagian uang jajan untuk membantu orang yang membutuhkan, dan berikan dengan sopan tanpa meminta pujian dari siapa pun.
- Di mana saja: kalau membantu orang lain, jangan memotret dan menyebarkan bantuan itu supaya dipuji, tetapi cukup berdoa semoga bantuan itu bermanfaat.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Shifat ash-Shafwah karya Al-Hafizh Ibnul Jauzi, Juz 1, halaman 355 pada edisi yang terverifikasi. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/12031?page=473
Lihat naskah Arabnya
كَانَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ يَحْمِلُ جِرَابَ الدَّقِيقِ عَلَى ظَهْرِهِ بِاللَّيْلِ فَيَتَصَدَّقُ بِهِ، فَلَمَّا مَاتَ غَسَّلُوهُ فَوَجَدُوا فِي ظَهْرِهِ آثَارًا سَوْدَاءَ مِمَّا كَانَ يَنْقُلُ الْأَحْمَالَ إِلَى بُيُوتِ الْأَرَامِلِ.