Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Makan Bersama Tanpa Sombong

Makan Bersama Tanpa Sombong
Bagikan Artikel

Hasan bin Ali adalah cucu Rasulullah yang terkenal rendah hati. Ia tidak suka sombong, walau banyak orang menghormatinya.

Suatu hari, Hasan sedang berjalan melewati jalan di kota Madinah. Ia memakai pakaian yang bersih dan rapi. Langkahnya tenang.

Pemuda berjubah dari belakang berjalan di jalan kota Madinah
Hasan berjalan melewati jalan di kota Madinah.

Di pinggir jalan, ia melihat sekelompok orang miskin sedang duduk di atas tanah. Mereka makan bersama dari potongan roti kering yang mereka kumpulkan. Makanan itu sederhana, tetapi mereka makan dengan gembira.

Melihat Hasan lewat, mereka menyapa dengan riang. Mereka mengajaknya, “Kemarilah, ikut makan siang bersama kami!” Ajakan itu tulus, dari hati yang senang berbagi.

Pemuda duduk bersila makan bersama orang miskin di atas tanah
Hasan duduk dan makan bersama tanpa gengsi.

Hasan tidak merasa gengsi. Ia tidak berkata bahwa makanan itu terlalu sederhana untuknya. Ia turun, lalu duduk bersila di atas tanah bersama mereka. Ia ikut mencicipi roti kering itu dengan senang hati.

Ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong. Duduk bersama orang miskin tidak merendahkan siapa pun. Justru di situlah hati menjadi lembut.

Setelah makan bersama, Hasan mengajak mereka bertamu ke rumahnya. Di sana, ia menjamu mereka dengan makanan yang lezat dan memberi mereka pakaian baru. Mereka pulang dengan wajah berseri, dan Hasan pun merasa bahagia karena bisa berbagi.

Pemuda mengantar tamu keluar dari rumahnya dengan gembira
Setelah makan bersama, Hasan menjamu mereka di rumahnya.

Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu pun ikut belajar. Mereka melihat bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari makanannya atau pakaiannya, melainkan dari kerendahan hati dan kesediaannya duduk bersama siapa pun tanpa merasa lebih tinggi.

Pesan untuk Kita

Orang yang rendah hati tidak memilih-milih teman makan. Ia duduk bersama siapa pun, menghargai setiap orang, dan senang berbagi apa yang ia punya.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau teman mengajak makan bersama saat istirahat, jangan menolak hanya karena bekalnya sederhana. Duduklah dan makanlah bersama dengan gembira.
  • Di rumah: kalau ada tamu atau tetangga yang datang, sambut dengan ramah dan tawarkan makanan atau minuman yang ada, tanpa membeda-bedakan.
  • Di mana saja: jangan mengejek makanan teman atau pakaian teman. Hargai setiap orang, karena Allah tidak menyukai orang yang sombong.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini diriwayatkan dalam kitab Mukhtashar Tarikh Dimasyq karya Ibnu Manzhur, Juz 7, halaman 129. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/3118?page=2324

Catatan kejujuran sumber: yang terverifikasi kuat dari fragmen di atas adalah intinya, yaitu Hasan melewati orang-orang miskin yang sedang makan dan tidak bersikap sombong terhadap mereka. Lanjutan kisah (duduk makan bersama lalu menjamu mereka di rumah dengan pakaian baru) berasal dari kutipan bank dan tidak tampil dalam fragmen hasil pencarian, jadi guru perlu mengetahuinya saat menceritakan kisah ini.

Lihat naskah Arabnya

مر الحسن بمساكين يأكلون