Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Tetap Bersaudara Meski Berbeda

Tetap Bersaudara Meski Berbeda
Bagikan Artikel

Imam Asy-Syafii dan Yunus bin Abdil A’la adalah dua sahabat karib. Mereka sering berdiskusi tentang ilmu. Suatu hari, mereka berdiskusi tentang satu masalah ilmu hingga berbeda pendapat.

Diskusi itu berlangsung hangat. Masing-masing menyampaikan pendapatnya dengan dalil dan adab. Tetapi pada akhirnya, mereka tetap tidak sepakat. Mereka pun berpisah dengan hati yang masih mengganjal.

Dua pria berdiskusi di serambi masjid dengan pilar batu
Asy-Syafii dan Yunus berdiskusi tentang satu masalah ilmu.

Yunus pulang ke rumahnya dengan perasaan cemas. Ia takut persahabatan mereka retak hanya karena satu perbedaan pendapat. Ia memikirkan hal itu sepanjang hari. Apakah sahabatnya akan marah kepadanya?

Ketika malam tiba, terdengar ketukan pintu di rumah Yunus. Ia membuka pintu dan terkejut. Ternyata Imam Asy-Syafii sendiri yang datang. Imam Asy-Syafii menggenggam tangannya erat-erat dan berkata dengan lembut, “Wahai Yunus, tidak bisakah kita tetap menjadi saudara yang saling mencintai, meski kita berbeda pandangan dalam satu masalah?”

Pria mengetuk pintu rumah batu malam hari disambut sahabatnya
Malam itu Asy-Syafii datang sendiri ke rumah Yunus.

Air mata haru mengalir di pipi Yunus. Ia tersenyum lega. Persahabatan mereka tidak retak. Justru sejak malam itu, persaudaraan mereka semakin kokoh. Mereka belajar bahwa perbedaan pendapat dalam ilmu tidak boleh memutus persaudaraan.

Dua pria berjalan beriringan di jalan desa pagi hari
Mereka tetap bersaudara meski berbeda pendapat.

Kisah genggaman tangan malam itu pun diceritakan kepada para penuntut ilmu di Mesir. Mereka belajar bahwa ilmu yang benar melahirkan adab, dan adab yang benar menjaga persaudaraan tetap utuh walau pendapat dalam satu masalah tidak sama.

Mereka pun tetap belajar bersama setelah malam itu. Perbedaan pendapat mereka tidak lagi menakutkan, karena mereka tahu bahwa persaudaraan jauh lebih berharga daripada memenangkan satu perdebatan.

Pesan untuk Kita

Berbeda pendapat itu wajar, dan tidak boleh memutus persahabatan. Kita boleh tidak sepakat dalam satu hal, tetapi kita tetap harus saling menyayangi dan menghormati.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau berbeda pendapat dengan teman tentang permainan atau pilihan ketua kelompok, jangan bermusuhan. Tetaplah bermain dan belajar bersama dengan rukun.
  • Di rumah: kalau berbeda selera atau pendapat dengan kakak dan adik, bicarakan dengan tenang, jangan bertengkar sampai tidak mau berbicara lagi.
  • Di mana saja: kalau teman punya pendapat yang berbeda, dengarkan dulu dengan sopan, lalu sampaikan pendapat kita dengan kalimat yang baik.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Durus li al-Syaykh Ali al-Qarni karya Ali al-Qarni, Juz 12, halaman 6. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/7710?page=184

Lihat naskah Arabnya

ألا يستقيم أن نكون إخوانا وإن لم نتفق في مسألة