Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Dunia Tidak Mengubahnya: Kisah Rumah Sederhana Abu Ubaidah

Dunia Tidak Mengubahnya: Kisah Rumah Sederhana Abu Ubaidah
Bagikan Artikel

Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah sahabat yang dipercaya memimpin pasukan kaum muslimin di negeri Syam.

Syam adalah negeri yang kaya dan makmur, penuh dengan harta dan kemewahan. Banyak pemimpin yang berubah setelah tinggal di tempat yang kaya. Mereka mulai suka hidup mewah dan melupakan kesederhanaan. Namun Abu Ubaidah tidak seperti itu. Meski memegang jabatan yang tinggi, ia tetap hidup sederhana seperti dulu.

Panglima berjubah sederhana berjalan menuju rumah kecilnya
Meski memegang jabatan tinggi, Abu Ubaidah tetap hidup sederhana.

Suatu hari, Khalifah Umar bin al-Khatthab berkunjung ke Syam dan bertamu ke rumah Abu Ubaidah. Umar ingin melihat sendiri bagaimana sahabatnya itu hidup. Begitu masuk ke dalam rumah, Umar tertegun. Rumah panglima besar itu ternyata sangat sederhana, jauh dari kemewahan yang ia bayangkan. Tidak ada perabot mewah, tidak ada hiasan megah. Yang ada hanyalah kesederhanaan seorang hamba Allah yang hatinya tidak terikat pada dunia.

Dua sahabat duduk bersila di rumah yang sangat sederhana
Umar tertegun melihat kesederhanaan rumah sahabatnya itu.

Melihat kesederhanaan itu, Umar menangis dan merangkul sahabatnya. Dengan suara bergetar ia berkata, “Dunia telah mengubah kita semua, wahai Abu Ubaidah, kecuali engkau.” Kata-kata itu adalah pujian yang paling indah. Abu Ubaidah telah membuktikan bahwa jabatan yang tinggi dan negeri yang kaya tidak mampu mengubah hatinya. Ia tetap rendah hati, tetap zuhud, dan tetap memilih hidup sederhana karena Allah. Umar pun pulang dengan hati yang penuh pelajaran, bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada istana atau harta, melainkan pada hati yang tidak diperbudak dunia.

Dua sahabat saling merangkul di ambang pintu rumah sederhana
Dunia telah mengubah semua orang, kecuali Abu Ubaidah.

Pesan untuk Kita

Jabatan dan kekayaan adalah ujian, bukan ukuran kemuliaan. Orang yang mulia adalah orang yang hatinya tidak berubah oleh dunia: tetap sederhana saat berkuasa, tetap rendah hati saat dipuji, dan tetap ingat bahwa semua kenikmatan dunia hanyalah titipan.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau ditunjuk menjadi ketua kelas atau petugas piket, tetap bersikap biasa dan tidak sombong kepada teman.
  • Di rumah: kalau mendapat barang baru yang bagus, jangan memamerkannya kepada teman yang belum punya, dan tetap bersyukur dengan apa yang sudah ada.
  • Di sekolah dan di rumah: biasakan hidup sederhana, misalnya memakai barang sampai benar-benar rusak sebelum meminta yang baru, dan berbagi dengan teman yang membutuhkan.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashhab karya Ibn Abd al-Barr, Juz 7, halaman 258. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/1499?page=3896

Catatan kejujuran sumber: yang terverifikasi kuat dari naskah adalah ucapan Umar kepada Abu Ubaidah dan kesederhanaan hidup Abu Ubaidah. Adegan kunjungan dalam kisah ini ditulis sebagai bingkai narasi atas inti tersebut, bukan sebagai kutipan kata per kata. Detail populer tentang isi keranjang roti kering di rumah Abu Ubaidah tidak ada di fragmen terverifikasi, sehingga detail itu sengaja tidak ditulis.

Lihat naskah Arabnya

وقال عمر إذ دخل عليه الشام، وهو أميرها: كلنا غيرته الدنيا غيرك يا أبا عبيدة