Setelah bertugas di Yaman, Imam Asy-Syafi’i kembali menuju kota Makkah dengan membawa bekal yang sangat banyak. Ia membawa sepuluh ribu dinar emas sebagai hadiah kehormatan. Jumlah itu sangat besar dan cukup untuk membeli rumah megah dan hidup mewah.
Namun beliau tidak langsung masuk ke dalam kota untuk bersenang-senang. Beliau mendirikan tenda kecil di luar gerbang Makkah dan berhenti di sana. Beliau tidak terburu-buru menikmati hartanya. Beliau menunggu dengan tenang di tendanya yang sederhana.

Mendengar kedatangan beliau, orang-orang berbondong-bondong datang menyambut. Orang miskin, anak yatim, dan kerabatnya datang satu per satu ke tenda itu. Imam Syafi’i menyambut mereka semua dengan wajah cerah dan tangan terbuka.
Beliau meraup koin-koin emas itu dengan kedua tangannya dan membagikannya kepada setiap orang yang datang. Satu per satu, dinar itu berpindah tangan sampai akhirnya habis tak tersisa sepeser pun. Beliau tidak menyisakan satu dinar pun untuk dirinya sendiri.

Barulah setelah itu beliau masuk ke kota Makkah dalam keadaan bersih dari timbunan harta dunia. Beliau masuk dengan hati lapang, tanpa beban menumpuk harta. Bagi beliau, harta yang dibagikan adalah harta yang benar-benar menjadi miliknya di sisi Allah.
Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak silau oleh harta dan tidak menimbunnya untuk diri sendiri. Harta yang dibagi kepada yang membutuhkan justru menjadi tabungan yang paling aman. Orang yang dermawan tidak pernah miskin hatinya, walau kantongnya kosong.

Pesan untuk Kita
Zuhud bukan berarti tidak punya harta, tetapi tidak diperbudak harta. Orang yang dermawan membagi hartanya selagi ia mampu, dan hatinya tetap lapang walau hartanya habis dibagikan.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau membawa bekal lebih atau mendapat hadiah makanan, bagilah kepada kawan yang tidak membawa bekal, jangan dinikmati sendiri sambil bersembunyi.
- Di rumah: sisihkan sebagian uang jajan untuk sedekah setiap minggu, dan berikan dengan ikhlas tanpa mengungkit-ungkit pemberian itu di kemudian hari.
- Di mana saja: kalau mempunyai mainan atau buku yang sudah tidak dipakai, berikan kepada anak yang membutuhkan, jangan menimbunnya sampai rusak di lemari.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir, Juz 51, halaman 401, yang meriwayatkan Imam Syafi’i membagikan sepuluh ribu dinar di luar Makkah. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/71?page=23892
Lihat naskah Arabnya
فَضُرِبَتْ لَهُ الْخَيْمَةُ وَمَعَهُ عَشَرَةُ آلَافِ دِينَارٍ فَجَاءَ قَوْمٌ وَسَأَلُوهُ فَمَا قُلِعَتِ الْخَيْمَةُ وَمَعَهُ مِنْهَا شَيْءٌ.