Kisah dari kitab kuning, disajikan jadi buku cerita anak. Silakan pilih bukunya.
Arsip kisah lainnya ada di kategori Kisah Hikmah di website madrasah.
Suatu hari, Abdullah bin Umar, seorang sahabat Nabi, berjalan melewati padang rumput yang hijau.
Di sana ada seorang bocah yang sedang menggembalakan kambing-kambing milik majikannya. Pada zaman dulu, bocah itu bekerja dan hidupnya masih diatur oleh majikannya.
Ia menggembala dengan tenang sambil memegang tongkat kayu.
Abdullah bin Umar ingin menguji kejujuran bocah itu. Sebenarnya beliau hanya menguji, bukan sungguh-sungguh menyuruh berbohong. Beliau berkata:
“Juallah seekor kambing ini kepadaku. Katakan saja kepada majikanmu, kambing itu dimakan serigala. Tidak ada yang tahu.”
Tawaran itu berat. Uang dari penjualan itu tentu terasa banyak bagi seorang bocah penggembala.
Kira-kira, apa jawaban bocah itu?
Bocah itu tidak langsung setuju. Ia menatap Abdullah bin Umar, lalu menjawab dengan tenang:
Jawaban itu membuat Abdullah bin Umar terharu.
Maksud bocah itu bukan bertanya Allah ada di mana. Ia tahu: majikannya mungkin tidak melihat, tetapi Allah selalu melihat dan selalu mengawasi kita.
Karena itu, ia tetap jujur, walaupun tidak ada satu pun manusia yang tahu.
Setelah itu, Abdullah bin Umar menemui majikan bocah tersebut. Ia membebaskan bocah itu dari majikannya, sehingga bocah itu menjadi anak merdeka.
Ia juga membeli seluruh kambing itu dari majikannya, lalu menghadiahkannya kepada bocah itu.
Sekarang, bocah itu menggembala kambing-kambingnya sendiri dengan hati gembira.
Jujur itu bukan hanya saat ada yang melihat. Jujur justru diuji saat tidak ada yang melihat. Allah selalu tahu apa yang kita lakukan, di mana pun kita berada.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah:
Kamu sudah selesai membaca kisah ini. Hebat! Semoga kita semua bisa meniru kejujuran bocah penggembala itu.
Bagian ini bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Ibnu Manzhur, Mukhtashar Tarikh Dimasyq, Juz 13, hlm. 162.
Verifikasi naskah di Turath.io · Baca versi artikel di website madrasah
قال زيد بن أسلم: مر عبد الله بن عمر براعٍ، فقال: يا راعي الغنم، هل من جزرةٍ؟ قال الراعي: ليس ها هنا ربها، فقال له ابن عمر: تقول إنه أكلها الذئب، قال: فرفع الراعي رأسه إلى السماء، ثم قال: فأين الله؟ قال ابن عمر: فأنا والله أحق أن أقول: فأين الله! فاشترى ابن عمر الراعي، واشترى الغنم، فأعتقه، وأعطاه الغنم.
Artinya ringkas: Zaid bin Aslam meriwayatkan, Abdullah bin Umar melewati seorang penggembala, memintanya seekor kambing, lalu mengujinya dengan berkata "katakan saja serigala yang memakannya". Penggembala itu menengadah ke langit dan menjawab: "Lalu, di mana Allah?" Ibnu Umar pun membeli penggembala itu dan kambing-kambingnya, lalu memerdekakannya dan menghadiahkan kambing itu kepadanya. Sumber: Ibnu Manzhur, Mukhtashar Tarikh Dimasyq, Juz 13, hlm. 162.


Imam Syafii adalah ulama besar yang ilmunya dipelajari banyak orang sampai sekarang. Tapi waktu kecil, hidupnya tidak mudah.
Ia tumbuh sebagai anak yatim dalam asuhan ibunya. Hidup mereka serba kurang dan sempit. Pada zaman dulu, kertas juga masih langka, tidak semudah sekarang yang bisa dibeli di toko.
Meski begitu, Syafii kecil tidak berhenti belajar. Di masa kecilnya, ia duduk bersama para ulama, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan menulis apa yang ia dapatkan dari mereka.
Ia tidak malu bertanya dan tidak malu belajar dari siapa pun yang berilmu.

Karena tidak punya kertas yang cukup, ia menulis pada tulang dan benda lain yang bisa ditulisi. Satu per satu ia kumpulkan.
Setiap pelajaran yang ia dengar, ia catat dengan tangannya sendiri, supaya tidak hilang begitu saja.

Lama-lama, tulisan itu sampai memenuhi guci-guci besar di rumahnya. Guci itu menjadi bukti ketekunannya, bukan bukti kekayaannya.
Syafii kecil membawa guci itu pulang dengan gembira, karena di dalamnya tersimpan ilmu yang sudah ia kumpulkan.
Syafii kecil tidak malu dengan alat tulisnya yang sederhana. Yang penting baginya adalah ilmunya tercatat dan bisa diulang lagi.
Ketekunan itulah yang kemudian membawanya menjadi ulama besar, yang ilmunya dipelajari banyak orang sampai sekarang.
Kurangnya alat bukan alasan untuk berhenti belajar. Yang penting adalah kemauan untuk mendengarkan, mencatat, dan mengulang pelajaran.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah:
Kamu sudah selesai membaca kisah ini. Hebat! Semoga kita semua bisa meniru ketekunan Imam Syafii kecil.
Bagian ini bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Imam Nawawi, al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab, Juz 1, hlm. 8. Verifikasi naskah di Turath.io · Baca versi artikel di website madrasah
نشأ يتيمًا في حجر أمه في قلة من العيش وضيق حال وكان في صباه يجالس العلماء ويكتب ما يستفيده في العظام ونحوها حتى ملأ منها خبايا


Imam Ghazali adalah ulama besar yang bukunya dipelajari banyak orang sampai sekarang. Waktu muda, ia pernah mendapat pelajaran yang tidak pernah ia lupakan, justru dari orang yang tidak disangka-sangka.
Waktu itu, Ghazali muda pergi jauh ke Jurjan untuk belajar dari seorang guru bernama Abu Nashr al-Ismaili. Ia mencatat semua pelajaran itu dengan rapi dalam sebuah tas berisi catatan-catatan ilmunya. Lalu ia pulang ke Thus, kota asalnya.
Di tengah jalan, rombongannya dicegat perampok. Semua barang rombongan diambil, termasuk tas catatan Ghazali.
Ghazali tidak marah-marah dan tidak melawan. Ia mengikuti pemimpin perampok itu dan meminta dengan sopan.

Ghazali berkata, Kembalikan catatan-catatan saya. Pemimpin perampok itu bertanya, Apa itu catatan? Ghazali menjawab, Tas berisi buku-buku ilmu saya.
Permintaan itu ia sampaikan dengan tenang, karena ia tahu ilmu itu sangat berharga baginya.
Lalu pemimpin itu berkata, Bagaimana kamu bisa belajar, kalau tas ini diambil saja kamu sudah kehilangan ilmumu? Pemimpin perampok itu lalu mengembalikan catatan Ghazali.
Ghazali merasa, kata-kata itu seperti dibuat Allah untuk membimbingnya. Ia sadar, ilmu yang hanya tersimpan di tas bisa hilang kapan saja.

Sesampainya di Thus, Ghazali menekuni pelajarannya selama tiga tahun sampai ia menghafal semua yang pernah ia catat.
Sejak itu, kalaupun jalan dicegat lagi, ia tidak akan kehilangan ilmunya, karena ilmunya sudah ada di hatinya.
Menulis itu baik, tapi menghafal dan memahami itu lebih kuat. Ilmu yang benar-benar kita pahami tidak hilang walau buku atau tas kita tertinggal.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah:
Kamu sudah selesai membaca kisah ini. Hebat! Semoga kita semua bisa meniru Imam Ghazali muda, menyimpan ilmu di hati, bukan hanya di tas.
Bagian ini bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Ibnu al-Adim, Bughyat al-Thalab fi Tarikh Halab, Juz 5, hlm. 611. Verifikasi naskah di Turath.io · Baca versi artikel di website madrasah
فقُطع عليه الطريق، وأُخذ تعلقه، فقال لمقدم قطاع الطريق: ردوا علي تعليقتي، فقال لي: كيف تعلمت وأنت تأخذ هذه المخلاة تتجرد عن علمك، وبقيت بلا علم! وردها علي، فدخلت طوس، وأقبلت على أمري ثلاث سنين حتى تحفظت جميع ما علقت، فصرت بحيث لو قطع الطريق لا أحرم علمي.


Abdullah bin al-Mubarak adalah ulama besar yang dikenal dermawan dan sangat menjaga amanah. Pada zaman dulu, orang bepergian jauh dengan unta dan kuda, bukan dengan mobil seperti sekarang.
Suatu ketika, beliau sedang belajar di negeri Syam. Di sana beliau meminjam sebatang pena dari seorang teman.
Karena terburu-buru merapikan tas, pena itu terselip dan terbawa pulang.
Sesampainya di rumahnya di Marwa, saat membongkar tas, beliau terkejut. Pena pinjaman itu ada di dalam tasnya.

Beliau tidak berkata, ah, cuma pena kecil, tidak apa-apa.
Beliau justru kembali menempuh perjalanan jauh ke Syam, hanya untuk mengetuk pintu pemiliknya dan mengembalikan sebatang pena itu.

Pemilik pena itu tentu senang, karena barangnya kembali.
Abdullah bin al-Mubarak pun tenang, karena amanah sudah ia tunaikan.
Barang pinjaman sekecil apa pun tetap amanah.
Merawat dan mengembalikannya tepat waktu adalah tanda anak yang bisa dipercaya.
Barang pinjaman sekecil apa pun tetap amanah. Merawat dan mengembalikannya tepat waktu adalah tanda anak yang bisa dipercaya.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah:
Kamu sudah selesai membaca kisah ini. Hebat! Semoga kita semua bisa menjaga amanah, sekecil apa pun barangnya.
Bagian ini bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Muhammad Hifzhur Rahman al-Kamlai, al-Budur al-Mudhiyyah fi Tarajim al-Hanafiyyah, Juz 9, hlm. 348. Verifikasi naskah di Turath.io · Baca versi artikel di website madrasah
استعار قلمًا بأرض الشام، ونسي أن يرده إلى صاحبه، فلما قدم مرو، رأى القلم في أمتعته، فرجع إلى أرض الشام حتى رده إلى صاحبه


Imam Syafii adalah ulama besar yang ilmunya dipelajari banyak orang sampai sekarang. Waktu menjadi murid, gurunya adalah Imam Malik, ulama besar di Madinah.
Suatu hari, Syafii duduk di majelis belajar Imam Malik. Guru sedang membacakan pelajaran, dan para murid mendengarkan dengan tenang.
Bukan karena ia takut dimarahi, melainkan karena ia sangat menghormati gurunya.
Baginya, menjaga ketenangan majelis adalah bagian dari belajar.

Saat giliran membaca kitab, Syafii memegang ujung kertasnya perlahan-lahan.
Ia membalik lembaran itu dengan sangat lembut, supaya tidak menimbulkan bunyi yang mengganggu gurunya.

Syafii mendengarkan dengan penuh hormat sampai pelajaran selesai.
Ia tidak membuat kegaduhan dan tidak mengganggu teman-temannya.
Karena adabnya yang baik itulah, ilmunya menjadi berkah dan mudah dipahami.
Pintar itu bukan hanya rajin membaca, tapi juga menjaga adab.
Pintar itu bukan hanya rajin membaca. Pintar juga berarti menjaga adab: tenang, mendengarkan, dan tidak mengganggu orang yang sedang berbicara.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah:
Kamu sudah selesai membaca kisah ini. Hebat! Semoga kita semua bisa menjaga adab di hadapan guru.
Bagian ini bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Abu Syamah al-Maqdisi, Syarh asy-Syathibiyyah (Ibraz al-Maani), Juz 1, hlm. 769. Verifikasi naskah di Turath.io · Baca versi artikel di website madrasah
كنت أتصفح الورقة بين يدي مالك تصفحا رقيقا؛ هيبة له؛ لئلا يسمع رقعها


Imam Malik adalah ulama besar di Madinah yang mengajarkan hadits, yaitu perkataan dan ajaran Nabi Muhammad.
Banyak murid datang ke majelisnya untuk belajar.
Suatu hari, Imam Malik sedang menyampaikan hadits kepada para muridnya.
Para murid mendengarkan dengan sungguh-sungguh, tidak ada yang membuat gaduh.

Di tengah majelis, seekor kalajengking menyengat kakinya berkali-kali, sampai 16 kali.
Para murid melihat wajah Imam Malik berubah dan memucat. Tapi beliau tetap tenang. Beliau tidak berteriak, tidak melompat, dan tidak memotong hadits yang sedang beliau sampaikan.

Baru setelah majelis selesai dan para murid bubar, beliau mengeluarkan kalajengking itu dari sepatunya.
Seorang murid bertanya heran, mengapa beliau tidak berhenti tadi. Imam Malik menjawab, ia bersabar karena mengagungkan hadits Rasulullah.
Sabar itu bukan berarti menahan sakit yang berbahaya tanpa berobat.
Sabar di sini berarti fokus, tidak gampang menyerah, dan menghormati pelajaran yang sedang disampaikan.
Sabar itu bukan berarti menahan sakit yang berbahaya tanpa berobat. Sabar di sini berarti fokus, tidak gampang menyerah, dan menghormati pelajaran yang sedang disampaikan.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah:
Kamu sudah selesai membaca kisah ini. Hebat! Semoga kita semua bisa belajar dengan sabar dan menghormati ilmu.
Bagian ini bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Fath al-Qarib al-Mujib ala at-Targhib wa at-Tarhib, Juz 4, hlm. 334, mengutip Tartib al-Madarik. Verifikasi naskah di Turath.io · Baca versi artikel di website madrasah
فلدغته عقرب ورجله داخل الخف ست عشرة مرة وهو يتغير لونه ويصفر ولا يقطع حديث رسول الله ﷺ، إنما صبرت إجلالا لحديث رسول الله ﷺ


Imam Abu Hanifah adalah ulama besar yang dikenal baik kepada tetangganya. Pada zaman dulu, rumah-rumah tetangga letaknya berdekatan, jadi suara dari rumah sebelah mudah terdengar.
Tetangga beliau adalah seorang tukang sol sepatu. Setiap malam, ia sering bernyanyi keras-keras sampai larut malam.
Suara itu tentu mengganggu waktu istirahat Imam Abu Hanifah.
Tapi beliau tidak membalas dengan marah-marah atau melempar batu. Beliau tetap sabar dan tidak mendendam.

Suatu malam, rumah tetangga itu sepi. Beliau mencari kabar, ternyata tetangga itu dibawa petugas dan ditahan karena membuat keributan.
Bukannya senang karena rumahnya jadi tenang, Imam Abu Hanifah justru pergi menemui penguasa dan memohon agar tetangganya dibebaskan, karena tetangga punya hak untuk dibela.

Setelah dibebaskan, tukang sepatu itu datang berterima kasih.
Imam Abu Hanifah berkata lembut, wahai anak muda, apakah kami menyia-nyiakanmu? Pemuda itu malu dan berjanji tidak akan berbuat onar lagi, bahkan mulai rajin ikut belajar.
Menolong orang yang pernah mengganggu kita adalah akhlak anak hebat.
Kebaikan yang tulus bisa mengubah teman yang nakal menjadi sahabat yang baik.
Menolong orang yang pernah mengganggu kita adalah akhlak anak hebat. Kebaikan yang tulus bisa mengubah teman yang nakal menjadi sahabat yang baik.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah:
Kamu sudah selesai membaca kisah ini. Hebat! Semoga kita semua bisa membalas gangguan dengan kebaikan.
Bagian ini bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Akhbar Abi Hanifah wa Ashhabihi, Juz 1, hlm. 51-52. Verifikasi naskah di Turath.io · Baca versi artikel di website madrasah
فصار أبو حنيفة إلى الوالي يشفع فيه وقال له جاري وله حق الجوار، فقال له أبو حنيفة يا فتى ما أضعناك


Imam Bukhari adalah ulama besar yang menyusun buku hadits paling sahih setelah Al-Quran, yaitu Shahih Bukhari.
Beliau memilih hadits dengan sangat hati-hati, hanya dari orang yang benar-benar jujur.
Suatu hari, beliau melakukan perjalanan jauh untuk mencatat satu hadits dari seorang bapak di desa yang jauh.
Sesampainya di depan rumah bapak itu, kuda milik bapak itu lepas dan berlari.

Bapak itu lalu mengangkat ujung bajunya ke depan kuda, seolah-olah di dalamnya ada makanan.
Kuda itu mendekat karena mengira akan diberi makan, lalu bapak itu menangkap talinya. Padahal bajunya kosong, tidak ada makanan sama sekali.

Melihat itu, Imam Bukhari langsung berbalik pulang tanpa mencatat hadits dari bapak itu.
Beliau berkata, orang yang tega berbohong kepada hewan tidak bisa dipercaya kejujurannya saat menyampaikan sabda Nabi Muhammad.
Jujur itu berlaku dalam semua keadaan, bukan hanya saat ujian atau di depan guru.
Menipu teman dengan dalih bercanda tetaplah bohong.
Jujur itu berlaku dalam semua keadaan, bukan hanya saat ujian atau di depan guru. Menipu teman dengan dalih bercanda tetaplah bohong.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah:
Kamu sudah selesai membaca kisah ini. Hebat! Semoga kita semua bisa selalu jujur, dalam keadaan apa pun.
Bagian ini bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Mausuat al-Akhlaq wa az-Zuhd wa ar-Raqaiq, Juz 1, hlm. 41. Verifikasi naskah di Turath.io · Baca versi artikel di website madrasah
لا آخذ الحديث عمن يكذب على البهائم