Imam Abu Hanifah adalah ulama besar yang dikenal baik kepada tetangganya. Pada zaman dulu, rumah-rumah tetangga letaknya berdekatan, jadi suara dari rumah sebelah mudah terdengar.

Tetangga beliau adalah seorang tukang sol sepatu. Setiap malam, ia sering bernyanyi keras-keras sampai larut malam. Suara itu tentu mengganggu waktu istirahat Imam Abu Hanifah.
Tapi Imam Abu Hanifah tidak membalas dengan marah-marah atau melempar batu. Beliau tetap sabar dan tidak mendendam.
Suatu malam, rumah tetangga itu sepi. Beliau mencari kabar, ternyata tetangga itu dibawa petugas dan ditahan karena membuat keributan. Bukannya senang karena rumahnya jadi tenang, Imam Abu Hanifah justru pergi menemui penguasa dan memohon agar tetangganya dibebaskan, karena tetangga punya hak untuk dibela.

Setelah dibebaskan, tukang sepatu itu datang berterima kasih. Imam Abu Hanifah berkata lembut, wahai anak muda, apakah kami menyia-nyiakanmu? Pemuda itu malu dan berjanji tidak akan berbuat onar lagi, bahkan mulai rajin ikut belajar.

Pesan untuk kita
Menolong orang yang pernah mengganggu kita adalah akhlak anak hebat. Kebaikan yang tulus bisa mengubah teman yang nakal menjadi sahabat yang baik.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Kalau teman pernah mengganggumu, jangan membalas dengan mengganggu balik, bicarakan dengan tenang atau laporkan kepada guru.
- Kalau teman sedang kesusahan, tolonglah semampumu, misalnya membantu mengambilkan barangnya yang jatuh.
- Di rumah, bersikap baik kepada tetangga, jangan membuat suara keras yang mengganggu mereka.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Bagian ini untuk guru dan orang tua, bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Akhbar Abi Hanifah wa Ashhabihi, Juz 1, hlm. 51-52. Verifikasi naskah di Turath.io