Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Jawaban Berani Bocah di Tepi Jalan: Kisah Abdullah bin Zubayr

Jawaban Berani Bocah di Tepi Jalan: Kisah Abdullah bin Zubayr
Bagikan Artikel

Abdullah bin Zubayr masih kecil ketika sebuah peristiwa terkenal terjadi dalam hidupnya. Suatu hari, Abdullah sedang bermain bersama teman-temannya di tepi jalan. Tiba-tiba, Umar bin Khathab lewat di jalan itu. Teman-teman Abdullah langsung lari berhamburan karena takut dan segan.

Anak-anak dari belakang bermain di jalan tanah desa
Abdullah kecil bermain bersama teman-temannya di tepi jalan.

Namun Abdullah tidak ikut lari. Ia tetap berdiri tenang di tepi jalan, tidak menghalangi siapa pun. Umar pun berhenti dan bertanya dengan heran, “Mengapa engkau tidak lari bersama teman-temanmu?” Abdullah menjawab dengan sopan dan berani, “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak berbuat salah sehingga aku harus takut kepadamu. Dan jalan ini tidak sempit, sehingga aku tidak perlu minggir untuk memberi jalan kepadamu.”

Anak kecil dari belakang berdiri tenang di hadapan pemimpin berkuda
Abdullah tetap berdiri tenang dan tidak ikut lari.

Umar tersenyum mendengar jawaban itu. Ia kagum karena seorang anak kecil bisa menjawab dengan jujur, tenang, dan sopan di hadapan seorang pemimpin besar. Sejak kecil, Abdullah sudah menunjukkan keberanian yang lahir dari hati yang bersih. Ia tidak takut karena ia tidak bersalah, dan ia tidak sombong karena ia menjawab dengan adab. Teman-teman Abdullah berlari ke balik rumah dan bersembunyi di sana, sambil mengintip dengan rasa takut. Mereka heran melihat Abdullah yang tetap berdiri di tempatnya, tidak bergerak sedikit pun. Ketika Umar sudah pergi, teman-teman kembali dan bertanya bagaimana Abdullah bisa begitu tenang. Abdullah menjawab bahwa orang yang tidak bersalah tidak perlu takut kepada siapa pun.

Pemimpin dari belakang tersenyum kepada anak kecil di tepi jalan
Umar kagum pada jawaban jujur dan sopan itu.

Pesan untuk Kita

Berani itu bukan berteriak atau melawan. Berani itu berkata jujur dengan sopan, walaupun yang bertanya adalah orang yang lebih besar dan lebih berkuasa. Anak yang tidak bersalah tidak perlu takut, dan anak yang sopan akan dihormati.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau guru bertanya dan kamu tidak bersalah, jawablah dengan jujur dan tenang, tanpa berteriak dan tanpa berbohong.
  • Di rumah: kalau orang tua menegur, dengarkan dulu baik-baik, lalu jelaskan dengan sopan apa yang sebenarnya terjadi.
  • Di mana saja: kalau melihat teman dituduh padahal tidak bersalah, beranilah membela dengan kata-kata yang baik dan jujur.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Nihayat al-Arab fi Funun al-Adab karya an-Nuwayri, Juz 21, halaman 143, dalam biografi Abdullah bin Zubayr. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10283?page=7754

Lihat naskah Arabnya

ومر به عمر بن الخطاب وهو يلعب مع الصبيان ففروا ووقف هو، فقال له عمر: ما منعك أن لا تفر معهم؟ فقال: لم أجرم فأخافك، ولم تكن الطريق ضيقة فأوسع لك

Catatan kejujuran sumber: yang terverifikasi kuat dari naskah di atas adalah intinya: Umar lewat saat Abdullah kecil bermain bersama anak-anak, teman-temannya lari, Abdullah tetap berdiri, dan jawabannya bahwa ia tidak bersalah sehingga tidak perlu takut dan jalan tidak sempit sehingga tidak perlu minggir. Rincian cerita di artikel ini (teman-teman bersembunyi di balik rumah, senyum Umar, dan percakapan setelah Umar pergi) ditulis sebagai bingkai narasi untuk anak, bukan sebagai kutipan riwayat kata per kata. Penokohan bank yang menyebut Khalifah Harun ar-Rasyid tidak dipakai, karena naskah terverifikasi menyebut bocah itu Abdullah bin Zubayr dan yang lewat adalah Umar bin Khathab.