Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Yahya Kecil yang Menangis karena Al-Qur’an

Yahya Kecil yang Menangis karena Al-Qur’an
Bagikan Artikel

Di sebuah desa kecil bernama Nawa di negeri Syam, hiduplah seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama Yahya bin Syaraf. Ia memiliki kecintaan yang luar biasa pada Al-Qur’an. Setiap hari ia membaca dan mengulang ayat-ayat dengan gembira. Bagi Yahya, membaca Al-Qur’an adalah kegiatan yang paling ia sukai.

Anak-anak sebaya di desanya sering mengajaknya bermain. Mereka mengajaknya berlari, bermain kejar-kejaran, dan memanjat pohon sepanjang siang. Yahya tidak membenci permainan, tetapi ia tidak mau waktu membacanya terganggu. Ketika dipaksa ikut bermain, ia justru menangis, bukan karena cengeng, melainkan karena waktu membaca Al-Qur’annya terpotong.

Anak-anak dari belakang berlarian bermain di tanah lapang desa Syam
Anak-anak desa Nawa sering mengajak Yahya kecil ikut bermain.

Suatu hari, seorang ulama saleh bernama Syaikh Yasin lewat dan melihat pemandangan yang langka itu. Seorang bocah menangis sambil terus melantunkan ayat suci seraya memeluk mushafnya. Syaikh Yasin tertegun. Ia belum pernah melihat anak sekecil itu begitu mencintai Al-Qur’an.

Syaikh Yasin pun segera menemui ayah Yahya dan berpesan dengan sungguh-sungguh. Jaga anak ini baik-baik, karena kelak ia akan menjadi ulama besar di zamannya. Ayah Yahya mendengarkan pesan itu dengan haru. Ia berjanji akan menjaga dan mendukung anaknya belajar.

Bocah dari belakang memeluk mushaf sambil melangkah menuju rumah
Yahya menangis bukan karena cengeng, tetapi karena waktu membacanya terganggu.

Ternyata pesan itu benar. Bocah itu kelak menjadi Imam An-Nawawi, ulama besar pengarang kitab Riyadhus Shalihin yang dibaca jutaan orang sampai hari ini. Semua itu berawal dari kecintaan seorang anak kecil pada Al-Qur’an dan dari waktu belajar yang ia jaga dengan sungguh-sungguh.

Kisah ini mengajarkan kita untuk mencintai Al-Qur’an dan menghargai waktu belajar. Bermain itu boleh dan menyenangkan, tetapi jangan sampai permainan membuat kita meninggalkan bacaan dan pelajaran. Anak yang menjaga waktunya dengan baik akan tumbuh menjadi orang yang bermanfaat.

Kakek dari belakang memberkati bocah di halaman rumah batu
Syaikh Yasin berpesan agar Yahya dijaga baik-baik.

Pesan untuk Kita

Cinta pada Al-Qur’an tumbuh dari kebiasaan membaca setiap hari dan dari waktu yang dijaga. Anak yang berani menjaga waktu belajarnya, walau diajak bermain, kelak akan memetik buah dari ketekunannya.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: sisihkan waktu sepuluh menit setiap hari untuk membaca Al-Qur’an atau mengulang pelajaran, dan jangan menunda waktu itu hanya karena ajakan bermain.
  • Di rumah: buat jadwal sederhana bersama orang tua yang membagi waktu bermain dan waktu membaca, lalu tepati jadwal itu walau kawan mengajak bermain di luar jadwal.
  • Di mana saja: kalau kawan memaksa bermain saat kita sedang belajar, tolaklah dengan sopan dan katakan bahwa setelah selesai belajar kita akan ikut bermain.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra karya Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali As-Subki, Juz 8, halaman 396 pada edisi yang terverifikasi (klaim bank: halaman 395). Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/6739?page=3070

Lihat naskah Arabnya

قَالَ الشَّيْخُ يَاسِينُ بْنُ يُوسُفَ: رَأَيْتُ الشَّيْخَ مُحْيِيَ الدِّينِ وَهُوَ ابْنُ عَشْرِ سِنِينَ بِنَوَى، وَالصِّبْيَانُ يُكْرِهُونَهُ عَلَى اللَّعِبِ مَعَهُمْ، وَهُوَ يَهْرُبُ مِنْهُمْ وَيَبْكِي لِإِكْرَاهِهِمْ، وَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ، فَوَقَعَ فِي قَلْبِي مَحَبَّتُهُ.