Imam Al-Laits bin Sa’ad adalah ulama besar di Mesir yang terkenal sangat dermawan. Hartanya banyak, tetapi hartanya selalu habis untuk membantu masyarakat. Orang-orang mengenalnya sebagai orang yang tangannya ringan memberi dan hatinya lapang menerima tamu.
Suatu hari, seorang ibu datang ke rumahnya dan meminta sedikit madu. Ia hanya meminta sekadar satu takaran kecil, cukup untuk keperluan keluarganya. Permintaannya sederhana dan suaranya pelan, seolah ia malu meminta lebih.

Mendengar permintaan itu, Imam Al-Laits tidak memberi sekadar takaran kecil. Ia memerintahkan pegawainya menurunkan satu gentong besar berisi madu murni untuk ibu itu. Gentong itu jauh lebih besar daripada yang diminta. Ibu itu terkejut dan hampir tidak percaya.
Pegawainya pun heran dan bertanya, Bukankah ibu itu hanya meminta sedikit madu? Imam Al-Laits menjawab dengan kalimat yang menjadi mutiara hikmah. Ibu itu meminta sesuai kadar kebutuhannya yang sempit, namun kita memberi sesuai kadar keluasan rezeki yang Allah karuniakan kepada kita.

Ibu itu pulang membawa gentong madu dengan hati penuh syukur. Ia tidak hanya membawa madu, tetapi juga membawa pelajaran tentang kemurahan hati. Memberi sedikit padahal mampu memberi banyak bukanlah kedermawanan yang sempurna.
Kisah ini mengajarkan kita untuk memberi dengan lapang, bukan dengan hitung-hitungan yang pelit. Kalau kita mampu memberi lebih, berilah lebih. Kebaikan yang besar justru membuat hati pemberi semakin lapang dan membuat penerima semakin bersyukur.

Pesan untuk Kita
Orang yang meminta hanya meminta sesuai kebutuhannya, tetapi orang yang memberi memberi sesuai kemampuannya. Kedermawanan yang sejati memberi lebih dari yang diminta, selama ia mampu dan ikhlas.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau kawan meminjam pensil, jangan hanya meminjamkan pensil yang sudah pendek, tetapi pinjamkan pensil yang masih bagus kalau kita punya.
- Di rumah: kalau adik meminta sedikit makanan, bagilah dengan lapang dan jangan memberi sisa yang paling sedikit sambil menyembunyikan bagian yang bagus.
- Di mana saja: kalau membantu orang yang membutuhkan, berilah yang terbaik yang kita mampu, bukan barang yang sudah tidak kita inginkan lagi.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi, Juz 8, halaman 149, yang meriwayatkan kisah Al-Laits bin Sa’ad memberi segentong madu. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=5275
Lihat naskah Arabnya
سَأَلَتِ امْرَأَةٌ اللَّيْثَ مَنًّا مِنْ عَسَلٍ، فَأَمَرَ لَهَا بِزِقٍّ، وَقَالَ: سَأَلَتْ عَلَى قَدَرِهَا، وَأَعْطَيْنَاهَا عَلَى قَدَرِ السَّعَةِ عَلَيْنَا.