Di negeri Yaman hiduplah seorang ulama bernama Thawus bin Kaisan. Ia dikenal oleh banyak orang karena hatinya yang tulus dan ucapannya yang jujur. Sejak muda, ia membiasakan diri berkata benar dalam hal apa pun. Kejujurannya bukan sekadar ucapan di bibir, tetapi terpancar dari sikapnya sehari-hari.
Seorang ulama besar bernama Imam az-Zuhri pernah berkata tentang Thawus. Sekiranya kalian memandang wajah Thawus, kalian akan langsung mengetahui bahwa orang ini tidak akan pernah berbohong. Kesaksian itu sangat berharga, karena az-Zuhri adalah ulama yang mengenal banyak orang dan tahu betul mana ucapan yang jujur dan mana yang tidak.

Mengapa kejujuran bisa terlihat dari wajah seseorang? Karena orang yang terbiasa jujur hatinya tenang. Ia tidak perlu mengingat-ingat kebohongan yang pernah ia ucapkan. Ia tidak takut perkataannya diperiksa. Ketenangan itu membuat sikapnya jernih dan wajahnya teduh.

Thawus tidak menjadi terkenal karena harta atau jabatan. Ia terkenal karena orang-orang percaya pada ucapannya. Kepercayaan itu tumbuh sedikit demi sedikit, dari satu ucapan jujur ke ucapan jujur berikutnya. Lama-lama, kejujuran menjadi nama baiknya yang paling berharga.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa nama baik dibangun dari kejujuran sehari-hari. Sekali kita berbohong, orang mulai ragu. Tetapi kalau kita terbiasa jujur, orang akan percaya bahkan sebelum kita banyak berbicara.
Karena itu, biasakan berkata benar sejak kecil. Katakan yang sebenarnya kepada guru, kepada orang tua, dan kepada kawan. Kejujuran mungkin terasa berat sesaat, tetapi ia membuat hati tenang untuk waktu yang lama.

Pesan untuk Kita
Kejujuran yang dibiasakan setiap hari akan menjadi nama baik. Orang yang terbiasa jujur hatinya tenang, ucapannya dipercaya, dan sikapnya menenangkan orang di sekitarnya.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau ditanya guru tentang tugas yang belum selesai, jawablah dengan jujur dan jangan mengarang alasan yang tidak benar.
- Di rumah: kalau tidak sengaja memecahkan barang atau berbuat salah, akuilah dengan berani kepada orang tua dan mintalah maaf, jangan menyembunyikannya.
- Di mana saja: kalau berjanji kepada kawan, tepatilah janji itu, karena janji yang ditepati membuat orang percaya pada ucapan kita berikutnya.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi, Juz 5, halaman 43. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=3815
Lihat naskah Arabnya
قَالَ ابْنُ شِهَابٍ الزُّهْرِيُّ: لَوْ رَأَيْتَ طَاوُوْسًا، عَلِمْتَ أَنَّهُ لاَ يَكْذِبُ.