Setiap selesai shalat Subuh di Damaskus, Abu Darda duduk mengajar di masjid. Murid-muridnya datang berbondong-bondong untuk belajar membaca Al-Qur’an. Jumlah mereka sangat banyak, lebih dari seribu enam ratus orang. Masjid itu pun menjadi ramai dan penuh semangat.
Abu Darda tidak membiarkan mereka belajar tanpa aturan. Ia membagi murid-muridnya menjadi kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok berisi sepuluh orang dengan satu ketua kelompok. Dengan cara ini, semua murid mendapat giliran membaca dan semua bisa saling menyimak.

Di dalam kelompok kecil itu, suasana belajar terasa hangat. Murid yang satu membaca, sembilan kawannya menyimak dengan saksama. Kalau ada bacaan yang keliru, kawan segera membetulkan dengan lembut. Kalau ada yang belum hafal, kawan membantunya mengulang sampai bisa.

Abu Darda lah yang pertama kali membuat lingkaran belajar seperti ini. Cara ini membuat para murid betah dan tidak merasa malu. Mereka berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan untuk saling mengalahkan, tetapi untuk saling membantu menjadi lebih baik.
Kelak, para murid itu menjadi guru bagi orang lain. Mereka membawa cara belajar kelompok ini ke mana-mana. Dari satu lingkaran kecil yang terdiri atas sepuluh orang, lahirlah ribuan pembaca Al-Qur’an yang mencintai kitabnya sepanjang hayat.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa belajar bersama itu menyenangkan. Kelompok kecil membuat semua kebagian giliran. Kawan yang baik bukan kawan yang menertawakan kesalahan, tetapi kawan yang membantu membetulkan dengan sabar.

Pesan untuk Kita
Belajar bersama dalam kelompok kecil membuat semua kebagian giliran dan semua merasa aman. Kawan yang baik membantu membetulkan, bukan menertawakan.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: bentuk kelompok belajar berisi lima sampai sepuluh anak, lalu bergiliran membaca dan menyimak, dan betulkan bacaan kawan dengan kata yang lembut.
- Di rumah: ajak adik atau kakak membaca bersama selama lima belas menit setiap hari, saling menyimak dan saling menyemangati sampai hafal.
- Di mana saja: kalau ada kawan yang belum bisa, jangan diejek dan jangan ditinggalkan, tetapi temani ia mengulang sampai ia tersenyum karena berhasil.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi, Juz 2, halaman 346. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=2326
Lihat naskah Arabnya
قَالَ لِي أَبُو الدَّرْدَاءِ: اعْدُدْ مَنْ فِي مَجْلِسِنَا. قَالَ: فَجَاؤُوا أَلْفًا وَسِتَّ مائَةٍ وَنَيِّفًا، فَكَانُوا يَقْرَؤُوْنَ، وَيَتَسَابَقُوْنَ عَشْرَةً عَشْرَةً… وَهُوَ الَّذِي سَنَّ هَذِهِ الحِلَقَ لِلقِرَاءةِ.