Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Meninggalkan Puisi demi Hadits

Meninggalkan Puisi demi Hadits
Bagikan Artikel

Pada masa mudanya, Syu’bah sangat mahir dalam ilmu bahasa Arab. Ia menghafal ribuan bait puisi dan syair-syair indah di kotanya, dan banyak orang mengagumi kepintarannya.

Suatu hari, saat sedang berjalan-jalan, ia melintas di depan serambi masjid. Di sana, seorang guru sedang membacakan sabda-sabda Nabi kepada para muridnya.

Pemuda berjubah dari belakang berjalan membawa gulungan kertas di gang desa
Syu’bah muda sangat mahir menghafal ribuan bait puisi.

Syu’bah pun berhenti dan mendengarkan. Tutur kata Nabi yang begitu santun, agung, dan menyejukkan hati seketika memikat jiwanya.

Ia berkata dalam hatinya, “Sungguh sabda Nabi ini jauh lebih indah dan mulia daripada seluruh bait syair yang kuhafal!”

Sejak hari itu, Syu’bah mengalihkan seluruh kecerdasan dan waktunya untuk mempelajari hadits. Ia tidak lagi menghabiskan harinya hanya untuk puisi, tetapi duduk belajar dengan sungguh-sungguh kepada para guru hadits.

Pemuda berjubah dari belakang mendengarkan guru di serambi masjid
Sabda Nabi yang didengarnya jauh lebih indah daripada syair.

Perjalanannya tidak mudah. Ia harus menghafal, mencatat, dan memeriksa setiap hadits dengan teliti. Tetapi ia menjalaninya dengan gembira, karena ia merasa telah menemukan ilmu yang paling berharga.

Murid-muridnya pun ikut merasakan kegembiraan gurunya. Mereka menyadari bahwa belajar bukanlah sekadar menghafal banyak hal, tetapi memilih ilmu yang paling bermanfaat dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Syu’bah telah menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari keberanian untuk mendengarkan.

Kelak, Syu’bah menjadi guru besar hadits yang dihormati banyak orang. Semua itu berawal dari satu hari yang sederhana, yaitu hari ketika ia berhenti sejenak untuk mendengarkan, lalu berani mengubah arah belajarnya.

Guru berjubah dari belakang mengajar murid-murid di serambi masjid sore hari
Sejak hari itu, ia menjadi guru besar hadits.

Pesan untuk Kita

Semangat belajar berarti berani memilih ilmu yang paling bermanfaat, meskipun itu berarti meninggalkan kebiasaan lama yang sudah kita kuasai. Satu hari mendengarkan dengan sungguh-sungguh bisa mengubah arah hidup seseorang, jika ia berani mengikuti kebaikan yang ia temukan.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: saat guru menjelaskan pelajaran yang baru, dengarkan dengan sungguh-sungguh sampai selesai, jangan sibuk sendiri, karena satu penjelasan bisa mengubah caramu belajar.
  • Di rumah: luangkan waktu setiap hari untuk membaca buku yang bermanfaat bersama orang tua, meskipun kamu sudah nyaman dengan hiburan yang biasa kamu nikmati.
  • Di mana saja: kalau kamu menemukan ilmu yang baik, catatlah dan amalkan sedikit demi sedikit, jangan hanya dikagumi lalu dilupakan.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 7, halaman 212. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=4876

Lihat naskah Arabnya

قَالَ الأَصْمَعِيُّ: لَمْ نَرَ قَطُّ أَعْلَمَ مِنْ شُعْبَةَ بِالشِّعْرِ… فَمَرَرْتُ يَوْمًا بِالحَكَمِ بنِ عُتَيْبَةَ وَهُوَ يُحَدِّثُ، فَأَعْجَبَنِي الحَدِيْثُ، وَقُلْتُ: هَذَا أَحْسَنُ مِنَ الشِّعْرِ، فَمِنْ يَوْمَئِذٍ طَلَبْتُ الحَدِيْثَ.