Seorang pelayan sedang membawa mangkuk besar berisi kuah sayur panas untuk hidangan keluarga Ali Zainal Abidin. Ia berjalan dengan hati-hati, tetapi lantai itu licin. Mangkuk itu terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam lantai hingga pecah berantakan. Kuah tumpah dan mengotori pakaian majikannya.
Pelayan itu gemetar ketakutan. Ia mengira dirinya akan dimarahi habis-habisan karena telah merusak hidangan dan mengotori pakaian majikannya. Ia berdiri dengan tangan gemetar, tidak berani mengangkat kepala. Dalam hatinya, ia teringat ayat Al-Qur’an tentang orang-orang yang menahan amarah.

Dengan suara bergetar, pelayan itu berkata, Dan orang-orang yang menahan amarahnya. Ali Zainal Abidin mengangkat kepala dan menjawab dengan tenang, Aku telah menahan amarahku. Pelayan itu menyambung, Dan orang-orang yang memaafkan manusia. Majikannya tersenyum dan berkata, Aku telah memaafkanmu.
Pelayan itu melengkapi ayatnya, Dan Allah mencintai orang yang berbuat ihsan. Ali Zainal Abidin pun berkata dengan lapang dada, Pergilah, hari ini engkau kubebaskan karena Allah. Pelayan itu tidak hanya dimaafkan, tetapi juga diberi kebebasan. Air matanya mengalir karena haru dan syukur.

Kisah ini mengajarkan kita tiga tingkat akhlak yang mulia. Pertama, menahan amarah saat kita kesal. Kedua, memaafkan orang yang bersalah. Ketiga, berbuat baik lebih dari sekadar memaafkan. Tiga tingkat ini membuat hati lapang dan hubungan dengan orang lain menjadi damai.

Pesan untuk Kita
Memaafkan punya tiga tingkat: menahan amarah, memaafkan kesalahan, dan membalas dengan kebaikan. Orang yang sampai pada tingkat ketiga hatinya paling lapang dan paling dicintai Allah.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau kawan tidak sengaja merusak barang kita, tahan amarah dulu, lalu katakan bahwa kita memaafkannya, jangan langsung membentak atau membalas merusak.
- Di rumah: kalau adik menumpahkan minuman atau memecahkan gelas, bantulah membersihkan bersama, jangan memarahi berlama-lama, dan katakan bahwa semua bisa diperbaiki.
- Di mana saja: kalau sudah memaafkan kawan, tambahlah dengan kebaikan, misalnya menolongnya saat ia kesulitan, supaya maaf itu terasa sungguh-sungguh.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab ad-Durr al-Manthur fi at-Tafsir bi al-Ma’tsur karya Jalaluddin as-Suyuthi, Juz 2, halaman 317, yang meriwayatkan dialog Ali Zainal Abidin dengan pelayannya. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/12884?page=1332
Lihat naskah Arabnya
سَقَطَتْ مِنْ يَدِ جَارِيَةٍ لِعَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ صَحْفَةٌ فِيهَا مَرَقٌ حَارٌّ فَانْكَسَرَتْ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ: وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ، قَالَ: قَدْ كَظَمْتُ غَيْظِي، قَالَتْ: وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ، قَالَ: عَفَا اللَّهُ عَنْكِ، قَالَتْ: وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ، قَالَ: اذْهَبِي فَأَنْتِ حُرَّةٌ لِوَجْهِ اللَّهِ.