Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Marah yang Menjadi Doa

Marah yang Menjadi Doa
Bagikan Artikel

Abdullah bin Aun dikenal sebagai seorang ulama yang sangat sabar. Ia pandai mengendalikan amarahnya, bahkan ketika orang lain bersikap keterlaluan kepadanya.

Orang-orang di kotanya memperhatikan hal itu. Mereka hampir tidak pernah melihatnya marah, apalagi mengeluarkan kata-kata kasar kepada siapa pun.

Pria berjubah dari belakang berjalan tenang di pasar desa
Abdullah bin Aun dikenal sangat sabar dan pandai menahan marah.

Suatu hari di pasar, ada seseorang yang bertindak keterlaluan dan memancing emosinya. Orang itu berkata kasar dan bersikap tidak sopan di depan banyak orang.

Semua orang menunggu apa yang akan terjadi. Apakah Abdullah akan membalas dengan kata-kata kasar juga? Apakah ia akan berteriak balik?

Pria berjubah dari belakang menjawab dengan doa di pasar desa
Ia tidak membalas kasar, ia menjawab dengan doa.

Ternyata tidak. Abdullah hanya menarik napas panjang. Ia tersenyum dengan tenang, lalu menatap orang itu dan berucap, “Barakallahu fik.” Artinya, semoga Allah memberkahimu.

Orang yang memancing emosi itu terdiam. Ia merasa malu, karena kebaikan dibalas dengan doa, bukan dengan kemarahan. Hatinya pun luluh, dan suasana pasar kembali tenang.

Orang-orang di pasar pun ikut belajar dari kejadian itu. Mereka menyadari bahwa membalas kemarahan dengan kemarahan hanya akan membuat suasana semakin panas. Sebaliknya, satu kalimat doa yang diucapkan dengan tenang bisa memadamkan api kemarahan dan mengembalikan suasana menjadi damai. Itulah kekuatan doa yang baik.

Sejak itu, orang-orang belajar dari Abdullah. Menahan marah bukan berarti kalah. Menahan marah berarti menang atas diri sendiri, dan doa yang baik bisa melunakkan hati yang sedang keras.

Dua pria berjubah berjalan berdampingan di gang desa sore hari
Doa yang baik bisa melunakkan hati yang sedang keras.

Pesan untuk Kita

Saat kita marah, kita punya pilihan: membalas dengan kata kasar, atau menjawab dengan doa yang baik. Membalas dengan doa tidak membuat kita lemah, justru membuat kita kuat, karena kita berhasil mengendalikan diri dan menjaga hati orang lain tetap tenang.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau teman mengejekmu, jangan membalas dengan ejekan, tarik napas panjang, lalu jawablah dengan kalimat yang baik atau pergilah dengan tenang.
  • Di rumah: kalau kamu kesal kepada adik atau kakak, jangan berteriak, katakan dengan pelan apa yang membuatmu kesal, lalu doakan kebaikan untuknya.
  • Di mana saja: saat marah mulai terasa, berhentilah sejenak, minumlah air, dan ucapkan doa yang baik sebelum kamu berbicara.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 6, halaman 366. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=4616

Lihat naskah Arabnya

كَانَ ابْنُ عَوْنٍ لاَ يَغضَبُ، فَإِذَا أَغضبَهُ رَجُلٌ، قَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيْكَ.