Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Ratusan Unta untuk Sahabat

Ratusan Unta untuk Sahabat
Bagikan Artikel

Rombongan penuntut ilmu dari kota Basrah tiba di Mekkah. Mereka terkejut melihat pemandangan yang luar biasa di sebuah perkemahan.

Di sana, deretan tiga ratus unta sedang bersiap. Unta-unta itu gagah, terawat, dan jumlahnya sangat banyak. Rombongan itu bertanya-tanya, milik siapakah rombongan sebesar itu?

Rombongan dari belakang memandang deretan unta di perkemahan
Rombongan Basrah terkejut melihat tiga ratus unta bersiap.

Orang-orang menjawab bahwa unta-unta itu milik Abdullah bin Amr bin al-Ash, sahabat Nabi yang terkenal. Rombongan itu semakin penasaran, karena mereka membayangkan pemiliknya pasti hidup sangat mewah.

Namun, orang-orang menjelaskan sesuatu yang mengejutkan. Ratusan unta itu bukan untuk kemewahan pribadi. Unta-unta itu disediakan secara gratis untuk mengangkut barang-barang kawan-kawannya dan para musafir yang kelelahan.

Pria berjubah dari belakang berjalan kaki membawa sandal di tangan
Pemilik ratusan unta itu berjalan kaki dengan sederhana.

Ketika rombongan itu menemui Abdullah bin Amr, mereka kembali terkejut. Sahabat yang kaya raya itu ternyata berjalan kaki dengan sangat sederhana. Ia tidak memakai alas kaki, dan sandalnya digantungkan di tangan kirinya.

Ia menyapa mereka dengan ramah, tanpa menunjukkan kebanggaan sedikit pun. Kekayaannya tidak membuatnya sombong. Justru, kekayaannya ia pakai untuk menolong orang lain.

Rombongan itu saling berpandangan dengan kagum. Mereka menyadari bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukanlah banyaknya unta yang dimiliki, melainkan banyaknya orang yang terbantu oleh unta-unta itu. Sejak saat itu, mereka menceritakan kisah ini kepada siapa pun yang mereka temui di perjalanan pulang.

Sejak hari itu, rombongan Basrah pulang dengan pelajaran yang berharga. Harta yang banyak tidak harus membuat seseorang tinggi hati. Harta menjadi mulia ketika dipakai untuk membantu orang lain.

Unta membawa barang berjalan di jalan gurun sore hari
Harta menjadi mulia ketika dipakai menolong orang lain.

Pesan untuk Kita

Rendah hati berarti tidak sombong karena apa yang kita miliki, dan tidak malu untuk hidup sederhana. Orang yang rendah hati memakai apa yang ia punya untuk menolong orang lain, bukan untuk pamer kepada orang lain.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau kamu punya barang yang bagus, jangan dipakai untuk pamer, pakailah untuk belajar dan biarkan teman ikut memanfaatkannya bila perlu.
  • Di rumah: kalau kamu punya mainan atau buku lebih, pinjamkan kepada adik atau teman yang membutuhkan, dan jagalah dengan baik.
  • Di mana saja: saat menolong orang lain, lakukan dengan diam-diam dan ramah, tanpa mengungkit-ungkit pertolonganmu di depan orang banyak.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 3, halaman 93. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=2702

Lihat naskah Arabnya

قَالُوا: لإِخْوَانِهِ يَحْمِلُهُم عَلَيْهَا، وَلِمَنْ يَنْزِلُ عَلَيْهِ… فَأَتَيْنَاهُ، فَإِذَا هُوَ رَجُلٌ قَصِيْرٌ، بَيْنَ بُرْدَيْنِ، قَدْ عَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي شِمَالِهِ.