Suatu malam, seorang musafir sedang berjalan di pinggiran kota. Malam itu gelap dan sunyi, hanya suara langkah kaki yang terdengar.
Tiba-tiba, dari arah depan terdengar suara takbir yang menggema penuh haru. Suara itu datang dari atas punggung unta yang berjalan di depannya. Allahu Akbar, Allahu Akbar, diucapkan berulang-ulang dengan suara yang bergetar.

Musafir itu penasaran, lalu mendekat. Ternyata, orang yang bertakbir itu adalah Abu Hurairah, sahabat Nabi yang terkenal.
Musafir itu bertanya dengan sopan, “Mengapa engkau terus bertakbir sepanjang jalan?”
Abu Hurairah tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menjawab bahwa takbirnya itu adalah tanda syukur. Ia sedang mengingat masa mudanya yang dulu sangat sulit.

Dahulu, ia hidup sangat miskin. Ia bekerja menjadi pelayan upahan, hanya demi sesuap makanan pengganjal perut. Ia bekerja dari pagi sampai sore, dan upahnya hanya cukup untuk makan.
Kini, Allah telah mengangkat derajatnya. Ia tidak lagi hidup sesulit dulu. Ia menjadi orang yang dihormati dan dicintai banyak orang.
Musafir itu pun ikut merenung dalam diam. Ia belajar bahwa orang yang paling bersyukur bukanlah orang yang tidak pernah susah, melainkan orang yang tidak pernah lupa pada masa susahnya.
Karena itulah, setiap kali ia mengingat masa sulit itu, hatinya meluap oleh syukur. Takbir demi takbir keluar dari mulutnya, sebagai tanda bahwa ia tidak lupa dari mana ia berasal, dan tidak lupa kepada Allah yang telah menolongnya.

Pesan untuk Kita
Syukur bukan hanya diucapkan saat kita mendapat sesuatu yang besar. Syukur juga berarti mengingat masa sulit dengan rendah hati, lalu menyadari bahwa semua kemudahan yang kita rasakan sekarang adalah pertolongan Allah, sehingga kita tidak menjadi sombong.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: saat mendapat nilai bagus atau berhasil menyelesaikan tugas, ucapkan hamdalah dan ingatlah usaha guru serta orang tua yang membantumu.
- Di rumah: saat makan makanan yang enak, ingatlah masa ketika makanan itu belum ada di meja, lalu ucapkan terima kasih kepada orang tua dan kepada Allah.
- Di mana saja: saat melihat teman yang sedang kesulitan, jangan mengejeknya, bantulah sebisamu dan ingatlah bahwa keadaan bisa berubah.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 2, halaman 612. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=2592
Lihat naskah Arabnya
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: مَا هَذَا التَّكْبِيْرُ؟ قَالَ: شُكْرٌ… كُنْتُ أَجِيْرًا لِبُسْرَةَ بِنْتِ غَزْوَانَ بِعُقْبَةِ رِجْلِي، وَطَعَامِ بَطْنِي… فَزَوَّجَنِيْهَا اللهُ، فَهِيَ امْرَأتِي.