Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Tiga Roti untuk Pengemis Musafir

Tiga Roti untuk Pengemis Musafir
Bagikan Artikel

Ibrahim bin Adham sedang dalam perjalanan jauh bersama seorang muridnya. Bekal mereka sederhana saja, yaitu delapan potong roti gandum kering dan beberapa butir kurma manis.

Di tengah perjalanan, mereka berhenti untuk beristirahat. Badan mereka lelah, dan perut mereka mulai lapar. Roti dan kurma itu adalah bekal satu-satunya yang mereka bawa.

Ibrahim dan muridnya dari belakang beristirahat dengan bekal roti dan kurma
Ibrahim dan muridnya beristirahat dengan bekal roti dan kurma.

Tiba-tiba datang seorang pengemis tua yang juga sedang dalam perjalanan. Wajahnya letih, langkahnya pelan, dan ia memohon sesuap makanan untuk menyambung hidupnya.

Tanpa berpikir panjang, Ibrahim mengambil tiga potong roti beserta kurma, lalu memberikannya kepada pengemis itu. Tiga potong roti lainnya ia serahkan kepada muridnya yang juga kelelahan.

Ibrahim dari belakang menyerahkan roti dan kurma kepada pengemis tua
Ibrahim memberi tiga roti dan kurma kepada pengemis yang lapar.

Untuk dirinya sendiri, Ibrahim hanya mengambil dua potong roti kecil. Ia memakannya dengan penuh syukur, tanpa mengeluh sama sekali. Padahal, ia memberi paling banyak kepada orang lain, dan mengambil paling sedikit untuk dirinya.

Muridnya memperhatikan gurunya dengan kagum. Ia melihat bahwa gurunya tidak menghitung-hitung roti itu satu per satu. Baginya, memberi kepada orang yang lapar jauh lebih penting daripada menyimpan bekal untuk diri sendiri. Sejak hari itu, ia mengingat pelajaran itu setiap kali ia makan bersama orang lain.

Sore itu, pengemis tua itu pergi dengan perut yang lebih tenang. Muridnya pun makan dengan cukup. Dan Ibrahim tersenyum, karena berbagi ternyata membuat hati terasa lapang.

Pengemis tua berjalan pergi membawa roti di jalan desa sore hari
Berbagi membuat hati terasa lapang.

Pesan untuk Kita

Orang yang dermawan tidak menunggu sampai hartanya banyak. Ia berbagi dari apa yang ia punya, bahkan ketika bekalnya sendiri sedikit, dan ia rela mengambil bagian paling kecil untuk dirinya.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau teman lupa membawa bekal, tawarkan sebagian bekalmu dengan senang hati, tanpa menunggu diminta.
  • Di rumah: saat makan bersama keluarga, dahulukan tamu atau adik yang belum makan, dan ambil secukupnya untuk dirimu.
  • Di mana saja: kalau melihat orang yang lapar, beri makanan yang bersih dan layak, lalu ceritakan kepada guru atau orang tua supaya orang itu ikut diperhatikan.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 7, halaman 395. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=5059

Lihat naskah Arabnya

قَالَ: فَدَخَلَ سَائِلٌ، فَأَعْطَاهُ ثَلاَثَةَ أَرغِفَةٍ مَعَ تَمْرٍ، وَأَعْطَانِي ثَلاَثَةً، وَأَكَلَ رَغِيْفَيْنِ.