Suatu hari, datanglah seseorang kepada seorang ulama besar. Ia sudah menempuh perjalanan jauh untuk bertanya tentang suatu masalah. Ia berharap mendapat jawaban yang jelas.
Ulama itu mendengarkan pertanyaannya dengan saksama. Ia berpikir sejenak, lalu menjawab dengan tenang, “Aku tidak tahu jawabannya.”

Orang itu terkejut. Ia bertanya, “Apakah orang berilmu sepertimu tidak malu mengatakan tidak tahu?”
Ulama itu tersenyum bijak. Ia menjelaskan bahwa kata “aku tidak tahu” adalah perisai bagi orang yang berilmu. Perisai itu melindungi seseorang dari kesalahan yang lebih besar, yaitu menjawab sesuatu yang tidak ia pahami.

Bayangkan kalau ia nekat menjawab padahal tidak tahu. Jawabannya bisa salah, dan orang yang bertanya bisa tersesat karena jawaban itu. Jauh lebih aman dan lebih jujur untuk berkata tidak tahu, lalu mencari tahu bersama.
Orang itu pun mengerti. Ia pulang dengan pelajaran yang berharga. Ternyata, orang yang paling berilmu bukan orang yang selalu punya jawaban. Orang yang paling berilmu adalah orang yang berani jujur tentang batas ilmunya.
Ia menyadari bahwa pertanyaan yang tidak dijawab dengan jujur bisa menimbulkan masalah yang lebih besar. Sejak itu, ia pun tidak malu berkata tidak tahu saat ditanya hal yang belum ia pahami.
Imam Malik, ulama besar Madinah, pernah mengajarkan hal ini dengan kalimat yang singkat, “Perisai orang berilmu adalah kata aku tidak tahu. Kalau ia melupakan perisai itu, ia akan terkena bahaya.”

Pesan untuk Kita
Berani bilang “aku tidak tahu” bukan tanda bodoh. Itu tanda jujur dan tanda berani. Orang yang jujur tentang ketidaktahuannya akan belajar lebih banyak daripada orang yang pura-pura tahu.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau guru bertanya dan kamu belum tahu jawabannya, katakan dengan jujur, “Saya belum tahu, Bu, Pak,” lalu cari tahu jawabannya.
- Di rumah: kalau orang tua bertanya tentang pelajaran yang belum kamu pahami, jangan mengarang jawaban. Katakan belum tahu, lalu pelajari bersama.
- Di mana saja: kalau temanmu bertanya hal yang tidak kamu kuasai, ajak ia mencari jawabannya bersama dari buku atau guru, bukan menebak.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 8, halaman 77. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=5203
Lihat naskah Arabnya
قَالَ مَالِكٌ: جُنَّةُ العَالِمِ: (لاَ أَدْرِي)، فَإِذَا أَغفَلَهَا أُصِيْبَتْ مَقَاتِلُهُ.