Imam az-Zuhri adalah ulama besar di Madinah. Ia terkenal luas ilmunya dan banyak orang datang belajar kepadanya. Tapi ada satu kebiasaan beliau yang membuat sebagian orang heran.
Beliau sering meluangkan waktu khusus untuk anak-anak kecil. Ia mengumpulkan mereka, duduk bersama mereka, dan membacakan hadits-hadits dengan sabar. Anak-anak itu mendengarkan dengan mata berbinar.

Sebagian orang bertanya-tanya, mengapa ulama sebesar beliau mau repot mengajar anak-anak yang masih belia. Bukankah lebih mudah mengajar orang dewasa saja?
Imam az-Zuhri menjawab dengan pesan yang hangat. Ia memandang murid-murid kecilnya dan berkata, “Jangan sekali-kali kalian meremehkan diri kalian hanya karena usia kalian masih kecil.”

Ia melanjutkan, “Sungguh, kalian hari ini adalah anak-anak kecil. Tapi esok hari, kalian akan tumbuh menjadi pemimpin dan pembesar. Dan tidak ada kebaikan bagi orang tua yang sudah tua tapi tetap tidak berilmu.”
Anak-anak itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Mereka merasa dihargai. Mereka sadar, masa kecil bukan alasan untuk bermalas-malasan. Masa kecil justru waktu terbaik untuk belajar.
Seorang anak kecil di antara mereka mengangkat tangannya dan bertanya dengan polos, lalu Imam az-Zuhri menjawab dengan sabar dan tersenyum, tanpa sedikit pun meremehkan pertanyaannya.
Sejak itu, mereka semakin rajin. Mereka tahu, pemimpin hari esok dibentuk dari anak yang rajin belajar hari ini. Dan guru yang baik adalah guru yang tidak meremehkan murid kecilnya.

Pesan untuk Kita
Jangan meremehkan dirimu karena masih kecil. Justru karena masih kecil, waktumu untuk belajar masih panjang. Belajarlah sekarang, supaya kelak kamu bisa memimpin dengan ilmu.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: ikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, walau kamu merasa masih kecil dan belum bisa banyak hal.
- Di rumah: biasakan membaca setiap hari dan ceritakan kembali apa yang kamu pelajari kepada orang tua.
- Di mana saja: kalau temanmu merasa dirinya tidak bisa, semangati ia dengan kata-kata yang baik, seperti pesan Imam az-Zuhri.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 4, halaman 424. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=3577
Lihat naskah Arabnya
قَالَ الزُّهْرِيُّ: لاَ تَحْتَقِرُوا أَنْفُسَكُمْ لِحَدَاثَةِ أَسْنَانِكُمْ، فَإِنَّكُمْ صِغَارُ قَوْمٍ يُوْشِكُ أَنْ تَكُوْنُوا كِبَارَ قَوْمٍ، وَمَا خَيْرُ الشَّيْخِ أَنْ يَكُوْنَ شَيْخًا وَهُوَ جَاهِلٌ!