Urwah bin az-Zubair adalah ulama Madinah yang terkenal sabar dan bersyukur. Suatu masa, ia mengalami cobaan yang sangat berat, dua sekaligus.
Kakinya sakit parah, sampai dokter harus memotongnya agar sakit itu tidak menyebar. Pada waktu yang hampir bersamaan, putranya yang tercinta meninggal dunia. Dua kabar sedih datang dalam waktu yang berdekatan.

Banyak orang mengira Urwah akan larut dalam kesedihan. Tapi Urwah justru menengadahkan wajahnya dengan tenang. Ia berdoa dengan suara yang mantap, “Ya Allah, Engkau mengambil satu kakiku dan menyisakan anggota tubuhku yang lain. Engkau mengambil satu anakku dan menyisakan anak-anakku yang lain.”
Lalu ia melanjutkan doanya, “Segala puji bagi-Mu atas apa yang Engkau ambil, dan segala puji bagi-Mu atas apa yang Engkau berikan.”

Orang-orang yang mendengar doa itu merasa kagum. Urwah tidak menghitung apa yang hilang saja. Ia juga menghitung apa yang masih tersisa. Ia masih bisa berjalan dengan bantuan, masih bisa belajar, dan masih dikelilingi anak-anaknya yang lain.
Urwah tidak berpura-pura tidak sedih, karena kehilangan memang menyakitkan. Tapi ia memilih menutup doanya dengan pujian, supaya hatinya tetap dekat dengan Allah di tengah kesedihan.
Kisah ini mengajarkan cara bersyukur yang istimewa. Saat sesuatu hilang dari kita, jangan hanya melihat yang hilang. Lihat juga nikmat yang masih ada di sekitar kita, dan ucapkan alhamdulillah untuk keduanya.

Pesan untuk Kita
Syukur bukan berarti tidak boleh sedih. Syukur berarti, di tengah kesedihan, kita masih bisa melihat nikmat yang tersisa dan berterima kasih kepada Allah atas nikmat itu.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau nilai ulanganmu turun, jangan hanya memikirkan nilai itu. Syukuri pelajaran yang sudah kamu pahami, lalu perbaiki yang belum.
- Di rumah: setiap malam, sebutkan tiga nikmat yang masih kamu rasakan hari itu, misalnya kesehatan, keluarga, dan makanan.
- Di mana saja: kalau mainanmu rusak atau hilang, ucapkan alhamdulillah atas mainan lain yang masih ada, dan jaga mainan itu baik-baik.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 4, halaman 433. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=3586
Lihat naskah Arabnya
فَقَالَ: اللَّهُمَّ أَخَذْتَ عُضْوًا وَتَرَكْتَ أَعْضَاءً، وَأَخَذْتَ ابْنًا وَتَرَكْتَ أَبْنَاءً، فَلَكَ الحَمْدُ عَلَى مَا أَخَذْتَ، وَلَكَ الحَمْدُ عَلَى مَا أَعْطَيْتَ.