Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Koin Perak Penjaga Lisan

Koin Perak Penjaga Lisan
Bagikan Artikel

Abdullah bin Wahb adalah ulama yang rajin belajar dan mengajar. Tapi ia punya satu kebiasaan yang membuatnya sedih. Kadang, tanpa sengaja, ia membicarakan kekurangan orang lain di belakang mereka. Kebiasaan itu disebut menggunjing.

Abdullah tidak mau membiarkan kebiasaan itu terus ada. Ia membuat janji pada dirinya sendiri. Setiap kali ia menggunjing seseorang, ia akan berpuasa satu hari penuh sebagai hukuman untuk dirinya.

Ulama dari belakang duduk bersama murid di halaman majelis
Abdullah bin Wahb rajin belajar dan mengajar, tapi ia ingin memperbaiki lisannya.

Ia pun menjalankan janji itu. Kalau ia menggunjing, ia berpuasa. Kalau ia menggunjing lagi, ia berpuasa lagi. Tapi lama-lama, ia sadar ada masalah. Ia sudah terbiasa berpuasa, jadi hukuman itu terasa ringan. Lisannya belum juga terjaga.

Abdullah lalu mengganti hukumannya. Setiap kali ia menggunjing seseorang, ia wajib menyedekahkan satu keping dirham perak kepada orang yang membutuhkan. Dirham adalah uang perak yang berharga baginya.

Tangan menyerahkan koin perak kepada orang yang membutuhkan di pasar
Setiap kali menggunjing, ia menyedekahkan satu dirham perak.

Kali ini, hukuman itu terasa. Setiap kali lisannya hampir menggunjing, ia teringat koin perak yang harus ia keluarkan. Karena ia menyayangi uangnya, ia pun berpikir dulu sebelum berbicara.

Setiap dirham yang ia sedekahkan membuatnya semakin sadar bahwa kata-kata yang keluar dari mulutnya punya harga. Ia pun mulai menimbang setiap kalimat sebelum diucapkan kepada orang lain.

Sejak hari itu, lisannya terjaga. Ia tidak lagi membicarakan kekurangan orang lain. Ia belajar bahwa menjaga lisan butuh latihan dan cara yang sungguh-sungguh, bukan sekadar niat di dalam hati.

Ulama dari belakang berjalan tenang di gang desa
Sejak itu, lisannya terjaga dan tidak lagi menggunjing.

Pesan untuk Kita

Lisan yang tidak dijaga bisa menyakiti orang lain, walau orang itu tidak mendengarnya. Kalau kita sulit berhenti dari kebiasaan buruk, buatlah aturan yang jelas untuk diri sendiri, lalu jalankan dengan sungguh-sungguh.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: sebelum membicarakan teman, tanyakan dulu, “Apakah aku mau kalau hal ini dibicarakan tentang diriku?”
  • Di rumah: kalau mendengar gosip tentang orang lain, jangan diteruskan. Alihkan pembicaraan ke hal yang baik.
  • Di mana saja: buat aturan sendiri yang sederhana, misalnya setiap kali hampir menggunjing, berhenti dan ganti dengan doa yang baik untuk orang itu.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 9, halaman 228. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=5894

Lihat naskah Arabnya

نَذَرتُ أَنِّي كُلَّمَا اغْتَبْتُ إِنْسَانًا أَنْ أَصُوْمَ يَوْمًا، فَأَجْهَدَنِي، فَكُنْتُ أَغْتَابُ وَأَصُوْمُ، فَنَوَيْتُ أَنِّي كُلَمَّا اغْتَبتُ إِنْسَانًا، أَنْ أَتَصَدَّقَ بِدِرْهَمٍ، فَمِنْ حُبِّ الدَّرَاهِمِ تَرَكتُ الغِيْبَةَ.