Abdullah adalah anak yang masih belia. Setiap hari, ia menggembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith di padang rumput Mekkah. Tugas itu ia pegang dengan sungguh-sungguh.
Kambing-kambing itu bukan miliknya. Abdullah hanya dititipi untuk menjaganya. Ia memberi mereka makan, mengawasi mereka, dan memastikan mereka pulang dengan selamat.

Suatu hari, dua orang musafir lewat di padang itu. Mereka sudah berjalan jauh dan sangat kehausan. Salah seorang dari mereka bertanya dengan sopan, “Wahai anak, apakah engkau punya susu?”
Abdullah menjawab dengan jujur, “Aku punya susu, tetapi aku adalah orang yang diberi amanah. Kambing ini bukan milikku, jadi aku tidak boleh memberikannya tanpa izin pemiliknya.”

Jawaban itu tegas, tapi disampaikan dengan santun. Abdullah tidak marah dan tidak kasar. Ia hanya menjaga titipan yang ada di tangannya.
Musafir itu mengangguk pelan dan tidak memaksa. Ia menghormati jawaban Abdullah, karena ia tahu anak itu sedang menjaga titipan orang lain dengan sepenuh hati.
Musafir itu tersenyum kagum. Ia memuji Abdullah sebagai anak yang berakhlak mulia. Seorang anak kecil yang berani berkata jujur, walau di hadapan orang dewasa yang sedang kehausan, adalah anak yang istimewa.
Kelak, Abdullah tumbuh menjadi sahabat yang terkenal jujur dan amanah. Semua itu berawal dari padang rumput Mekkah, saat ia memilih menjaga titipan daripada menyenangkan orang lain dengan cara yang salah.

Pesan untuk Kita
Amanah artinya menjaga titipan apa adanya. Barang orang lain tetap barang orang lain, walau kita yang memegangnya. Berkata jujur dengan santun tidak pernah merugikan kita.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau dititipi barang teman, kembalikan dalam keadaan sama seperti saat menerima, dan jangan dipakai tanpa izin.
- Di rumah: kalau diberi uang untuk dibelanjakan, laporkan sisanya dengan jujur kepada orang tua.
- Di mana saja: kalau menemukan barang orang lain, serahkan kepada guru atau orang tua, jangan disimpan sendiri.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi (edisi Risalah), Sirah 2, halaman 312. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=970
Lihat naskah Arabnya
قَالَ: كُنْتُ غُلاَمًا يَافِعًا فِي غَنَمٍ لِعُقْبَةَ بنِ أَبِي مُعَيْطٍ أَرْعَاهَا، فَأَتَى عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ -ﷺ- وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ: (يَا غُلاَمُ، هَلْ عِنْدَكَ لَبَنٌ؟) قُلْتُ: نَعَمْ، وَلَكِنِّي مُؤْتَمَنٌ.