Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Punggung Belepotan Lumpur: Panggilan untuk Belajar

Punggung Belepotan Lumpur: Panggilan untuk Belajar
Bagikan Artikel

Di kota Kufah, hiduplah seorang anak bernama Muhammad. Ia anak yang ceria dan suka bermain di luar rumah bersama teman-temannya.

Setiap hari, mereka bermain air di pinggir sungai kecil. Muhammad adalah anak yang paling tinggi di antara teman-temannya. Karena itu, teman-teman sering mengoleskan lumpur ke punggungnya sambil tertawa. Punggung Muhammad pun sering belepotan lumpur cokelat.

Anak-anak bermain air di pinggir sungai, satu anak dari belakang dengan punggung belepotan lumpur
Muhammad kecil suka bermain air bersama teman-temannya di Kufah.

Suatu hari, seorang ulama hadits bernama Abu Nu’aim lewat di dekat tempat mereka bermain. Ia melihat Muhammad yang punggungnya penuh lumpur. Dengan suara ramah, ia menyapa, “Wahai anak yang belepotan lumpur, mengapa engkau tidak ikut duduk belajar di majelis ilmu?”

Sapaan itu bukan marah. Sapaan itu hangat dan penuh perhatian. Muhammad mendengarnya baik-baik. Hatinya tergerak. Ia membayangkan duduk bersama para penuntut ilmu, mendengar hadits, dan menghafalnya satu per satu.

Ia pulang ke rumah dengan punggung yang masih kotor, tapi hatinya terasa bersih dan ringan. Malam itu, ia menceritakan ajakan Abu Nu’aim kepada keluarganya dengan mata berbinar.

Ulama tua menyapa anak dari belakang di gang desa
Abu Nu’aim menyapa Muhammad dengan ramah dan mengajaknya belajar.

Sejak hari itu, Muhammad mulai rajin datang ke majelis ilmu. Ia belajar dengan tekun, sedikit demi sedikit, hari demi hari. Ia tidak lagi menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bermain.

Kelak, Muhammad tumbuh menjadi ulama besar. Orang-orang memanggilnya Mutayyan, dan ia dikenal sebagai penghafal hadits yang tekun. Semua itu berawal dari satu sapaan hangat di tepi tempat bermain.

Anak dari belakang berjalan menuju majelis sambil membawa kitab
Sejak hari itu, Muhammad rajin datang ke majelis ilmu.

Pesan untuk Kita

Satu ajakan yang baik bisa mengubah arah hidup seseorang. Kalau ada yang mengajakmu belajar dengan cara yang ramah, dengarkanlah. Mungkin hari itu adalah awal dari sesuatu yang besar.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau guru atau teman mengajak belajar bersama, sambut dengan senang hati dan datang tepat waktu.
  • Di rumah: sisihkan waktu setiap hari untuk membaca dan mengulang pelajaran, walau hanya sebentar, asal rutin.
  • Di mana saja: ajak teman yang masih malas belajar dengan kata-kata yang ramah, bukan dengan ejekan.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 14, halaman 42. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=8747

Lihat naskah Arabnya

قَالَ: كُنْتُ صَبِيًّا أَلْعَبُ مَعَ الصِّبْيَانِ، وَكُنْتُ أَطوَلَهُم، فَنَسْبَحُ وَنَخُوضُ، فَيُطَيِّنُوْنَ ظَهْرِي، فَبَصُرَ بِي يَوْمًا أَبُو نُعَيْمٍ فَقَالَ لِي: يَا مُطَيَّنُ! لَمْ لاَ تَحْضُر مَجْلِسَ العِلْمِ؟