Hatim al-Ashamm adalah seorang ulama yang terkenal sangat menjaga perasaan orang.
Suatu hari, seorang ibu datang kepadanya untuk bertanya tentang suatu masalah. Di tengah bertanya, ibu itu tidak sengaja buang angin. Ia sangat malu. Wajahnya memerah, ia ingin cepat-cepat pergi.

Hatim mengerti. Ia tidak menertawakan, tidak juga menegur. Ia justru berkata dengan tenang: “Bicaralah lebih keras, aku kurang mendengar.”

Ibu itu pun lega. Ia mengira Hatim benar-benar tidak mendengar apa-apa. Ia pun melanjutkan pertanyaannya dengan tenang, tanpa rasa malu lagi.
Sejak hari itu, Hatim terus berpura-pura kurang mendengar, supaya ibu itu tidak pernah merasa malu di hadapannya. Orang-orang pun mulai memanggilnya al-Ashamm, yang artinya si Tuli.
Hatim tidak keberatan sama sekali. Baginya, nama julukan tidak penting. Yang penting, perasaan orang lain terjaga.

Pesan untuk Kita
Menjaga perasaan orang adalah akhlak yang tinggi. Orang yang tidak mempermalukan temannya, walau ia bisa, adalah orang yang kuat hatinya.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau teman berbuat salah atau memalukan di depan kelas, jangan ditertawakan atau diceritakan ke teman lain. Diamkan dan bantu ia tenang.
- Di rumah: kalau adik atau kakak melakukan sesuatu yang memalukan, jangan diejek. Tutupi kekurangannya seperti Hatim menutupi rasa malu ibu itu.
- Di mana saja: kalau melihat teman sedang malu, alihkan pembicaraan ke hal lain yang menyenangkan, supaya ia tidak terus merasa malu.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari Siyar A’lam an-Nubala karya Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 11, halaman 484, dan al-Risalah al-Qusyairiyyah karya Abd al-Karim al-Qusyairi, Juz 1, halaman 63. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=7423 dan https://app.turath.io/book/9953?page=49
Lihat naskah Arabnya
جاءت امرأة فسألت حاتما عن مسألة فاتفق أنه خرج منها في تلك الحالة صوت فخجلت فقال حاتم: ارفعي صوتك