Imam Bukhari adalah ulama besar yang menyusun buku hadits paling sahih setelah Al-Quran, yaitu Shahih Bukhari. Beliau memilih hadits dengan sangat hati-hati, hanya dari orang yang benar-benar jujur.

Suatu hari, beliau melakukan perjalanan jauh untuk mencatat satu hadits dari seorang bapak di desa yang jauh. Sesampainya di depan rumah bapak itu, kuda milik bapak itu lepas dan berlari.
Bapak itu lalu mengangkat ujung bajunya ke depan kuda, seolah-olah di dalamnya ada makanan. Kuda itu mendekat karena mengira akan diberi makan, lalu bapak itu menangkap talinya. Padahal bajunya kosong, tidak ada makanan sama sekali.

Melihat itu, Imam Bukhari langsung berbalik pulang tanpa mencatat hadits dari bapak itu. Beliau berkata, orang yang tega berbohong kepada hewan tidak bisa dipercaya kejujurannya saat menyampaikan sabda Nabi Muhammad.

Pesan untuk kita
Jujur itu berlaku dalam semua keadaan, bukan hanya saat ujian atau di depan guru. Menipu teman dengan dalih bercanda tetaplah bohong.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Jangan menipu teman dengan pura-pura, misalnya berpura-pura membawa hadiah padahal tidak ada.
- Kalau berjanji kepada teman atau adik, tepati janjimu, atau katakan jujur kalau belum bisa.
- Berkatalah jujur di rumah, meski kejujuran itu membuatmu harus mengakui kesalahan.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Bagian ini untuk guru dan orang tua, bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Mausuat al-Akhlaq wa az-Zuhd wa ar-Raqaiq, Juz 1, hlm. 41. Verifikasi naskah di Turath.io