Imam Syafii adalah ulama besar yang ilmunya dipelajari banyak orang sampai sekarang. Waktu menjadi murid, gurunya adalah Imam Malik, ulama besar di Madinah.

Suatu hari, Syafii duduk di majelis belajar Imam Malik. Guru sedang membacakan pelajaran, dan para murid mendengarkan dengan tenang.
Saat giliran membaca kitab, Syafii memegang ujung kertasnya perlahan-lahan. Ia membalik lembaran itu dengan sangat lembut, supaya tidak menimbulkan bunyi yang mengganggu gurunya.

Bukan karena ia takut dimarahi, melainkan karena ia sangat menghormati gurunya. Baginya, menjaga ketenangan majelis adalah bagian dari belajar.

Karena adabnya yang baik itulah, ilmunya menjadi berkah dan mudah dipahami.
Pesan untuk kita
Pintar itu bukan hanya rajin membaca. Pintar juga berarti menjaga adab: tenang, mendengarkan, dan tidak mengganggu orang yang sedang berbicara.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Saat guru sedang menerangkan di kelas, dengarkan dengan tenang dan jangan membuat kegaduhan.
- Buka buku dan tutup kotak pensil dengan pelan, supaya tidak mengganggu teman.
- Di rumah, saat orang tua sedang berbicara, dengarkan sampai selesai sebelum bertanya.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Bagian ini untuk guru dan orang tua, bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Abu Syamah al-Maqdisi, Syarh asy-Syathibiyyah (Ibraz al-Maani), Juz 1, hlm. 769. Verifikasi naskah di Turath.io