Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Sebatang Pena yang Dikembalikan Jauh-jauh: Kisah Abdullah bin al-Mubarak

Sebatang Pena yang Dikembalikan Jauh-jauh: Kisah Abdullah bin al-Mubarak
Bagikan Artikel

Abdullah bin al-Mubarak adalah ulama besar yang dikenal dermawan dan sangat menjaga amanah. Pada zaman dulu, orang bepergian jauh dengan unta dan kuda, bukan dengan mobil seperti sekarang.

Ilustrasi ulama tampak dari belakang meminjam pena dari teman di pasar lama, tanpa wajah detail
Meminjam sebatang pena di pasar Syam.

Suatu ketika, beliau sedang belajar di negeri Syam. Di sana beliau meminjam sebatang pena dari seorang teman. Karena terburu-buru merapikan tas, pena itu terselip dan terbawa pulang.

Sesampainya di rumahnya di Marwa, saat membongkar tas, beliau terkejut. Pena pinjaman itu ada di dalam tasnya. Beliau tidak berkata, ah, cuma pena kecil, tidak apa-apa.

Ilustrasi ulama tampak dari belakang menemukan pena di dalam tas perjalanan di rumah, tanpa wajah detail
Pena pinjaman ditemukan di dalam tas di rumah.

Beliau justru kembali menempuh perjalanan jauh ke Syam, hanya untuk mengetuk pintu pemiliknya dan mengembalikan sebatang pena itu.

Ilustrasi ulama tampak dari belakang mengembalikan pena dengan sopan kepada pemiliknya di pasar, tanpa wajah detail
Pena dikembalikan kepada pemiliknya di Syam.

Pemilik pena itu tentu senang, karena barangnya kembali. Abdullah bin al-Mubarak pun tenang, karena amanah sudah ia tunaikan.

Pesan untuk kita

Barang pinjaman sekecil apa pun tetap amanah. Merawat dan mengembalikannya tepat waktu adalah tanda anak yang bisa dipercaya.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Kalau meminjam pensil atau penghapus teman, segera kembalikan setelah dipakai, jangan dibawa pulang tanpa izin.
  • Rawat barang pinjaman di rumah, misalnya buku kakak atau mainan teman, lalu kembalikan dalam keadaan baik.
  • Kalau menemukan barang yang bukan milikmu, serahkan kepada guru atau pemiliknya, jangan disimpan sendiri.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Bagian ini untuk guru dan orang tua, bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Muhammad Hifzhur Rahman al-Kamlai, al-Budur al-Mudhiyyah fi Tarajim al-Hanafiyyah, Juz 9, hlm. 348. Verifikasi naskah di Turath.io