Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Lalu, di Mana Allah? Kisah Bocah Penggembala yang Jujur

Lalu, di Mana Allah? Kisah Bocah Penggembala yang Jujur
Bagikan Artikel

Suatu hari, Abdullah bin Umar, seorang sahabat Nabi, berjalan melewati padang rumput. Di sana ada seorang bocah yang sedang menggembalakan kambing milik majikannya. Pada zaman dulu, bocah itu bekerja dan hidupnya masih diatur oleh majikannya.

Ilustrasi bocah penggembala di padang rumput saat matahari terbit, tampak dari belakang di antara kambing-kambingnya, tanpa wajah detail
Bocah penggembala di padang rumput pada pagi hari.

Abdullah bin Umar ingin menguji kejujuran bocah itu. Sebenarnya beliau hanya menguji, bukan sungguh-sungguh menyuruh berbohong. Ia berkata, “Juallah seekor kambing ini kepadaku. Katakan saja kepada majikanmu, kambing itu dimakan serigala. Tidak ada yang tahu.” Tawaran itu berat: uang dari penjualan itu tentu terasa banyak bagi seorang bocah penggembala.

Bocah itu tidak langsung setuju. Ia menatap Abdullah bin Umar, lalu menjawab dengan tenang, “Lalu, di mana Allah?”

Ilustrasi bocah penggembala tampak dari belakang sambil menunjuk ke langit di hadapan seorang musafir, tanpa wajah detail
“Lalu, di mana Allah?” – kejujuran saat tidak ada yang melihat.

Jawaban itu membuat Abdullah bin Umar terharu. Bocah itu sadar, majikannya mungkin tidak melihat, tetapi Allah selalu melihat dan selalu tahu. Maksud bocah itu bukan bertanya Allah ada di mana, melainkan mengingatkan bahwa Allah selalu mengawasi kita.

Setelah itu, Abdullah bin Umar menemui majikan bocah tersebut. Ia membebaskan bocah itu dari majikannya, sehingga bocah itu menjadi anak merdeka. Ia juga membeli seluruh kambing itu dari majikannya, lalu menghadiahkannya kepada bocah itu.

Ilustrasi bocah penggembala yang berjalan bebas di antara kambing-kambingnya di pagi hari, tampak dari belakang, tanpa wajah detail
Kejujuran berbuah kemerdekaan dan hadiah kambing.

Pesan untuk kita

Jujur itu bukan hanya saat ada yang melihat. Jujur justru diuji saat tidak ada yang melihat. Allah selalu tahu apa yang kita lakukan, di mana pun kita berada.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Tetap jujur saat ulangan, meski tidak ada guru yang mengawasi.
  • Mengakui kesalahan di sekolah dan di rumah, misalnya mengaku kalau sudah memecahkan gelas, bukan menyembunyikannya.
  • Mengembalikan barang temuan kepada guru atau pemiliknya.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Bagian ini untuk guru dan orang tua, bukan tugas baca anak. Kisah ini disadur dari khazanah kitab kuning. Rujukan: Ibnu Manzhur, Mukhtashar Tarikh Dimasyq, Juz 13, hlm. 162. Verifikasi naskah di Turath.io