Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Tiga Dinar Terakhir untuk Sahabat

Tiga Dinar Terakhir untuk Sahabat
Bagikan Artikel

Suatu hari, Imam Syu’bah sedang berkumpul bersama murid-muridnya. Suasananya tenang, dan mereka sedang belajar bersama dengan senang hati.

Tiba-tiba, datanglah sahabat karibnya, Sulaiman bin al-Mughirah. Matanya basah oleh air mata. Ia datang dengan wajah sedih dan langkah yang berat.

Ulama dari belakang duduk bersama murid di halaman majelis
Imam Syu’bah sedang berkumpul bersama murid-muridnya.

Sulaiman menceritakan musibahnya. Keledai tunggangannya yang satu-satunya baru saja mati. Karena itu, ia tidak bisa pergi shalat Jumat berjamaah, dan ia kesulitan mengangkut kebutuhan keluarganya. Semua terasa berat baginya.

Imam Syu’bah mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tidak menunda dan tidak banyak bertanya. Ia merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan tiga keping dinar emas.

Dua lelaki dari belakang, satu menyerahkan koin emas kepada sahabatnya
Imam Syu’bah memberikan tiga dinar terakhirnya kepada Sulaiman.

Ia menyerahkan dinar itu kepada Sulaiman dengan tulus. Ia berkata bahwa hanya uang itulah yang ia miliki. Ia tidak punya yang lain. Tapi ia rela memberikannya, supaya Sulaiman bisa membeli keledai pengganti.

Sulaiman menerima pemberian itu dengan haru. Bebannya terasa lebih ringan. Ia bisa kembali pergi berjamaah dan mengurus kebutuhan keluarganya.

Imam Syu’bah tidak mengungkit pemberiannya di kemudian hari. Ia menganggap pemberian itu sudah selesai, dan persahabatan mereka jauh lebih berharga daripada tiga dinar emas.

Kisah ini mengajarkan bahwa dermawan bukan soal memberi dari kelebihan saja. Dermawan yang paling indah adalah memberi walau kita sendiri sedang tidak berlebih, karena kita percaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Lelaki dari belakang berjalan tenang di gang desa
Memberi dari apa yang dimiliki adalah dermawan yang paling indah.

Persahabatan mereka pun semakin erat.

Pesan untuk Kita

Memberi tidak menunggu kaya. Memberi dari apa yang kita punya, dengan hati yang tulus, jauh lebih berharga daripada janji memberi yang tidak pernah ditepati.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau temanmu lupa membawa bekal atau alat tulis, pinjamkan atau bagikan milikmu dengan ikhlas.
  • Di rumah: sisihkan sebagian uang jajan untuk bersedekah, walau hanya sedikit, dan lakukan dengan rutin.
  • Di mana saja: kalau melihat orang yang kesulitan, bantu sesuai kemampuanmu, dan jangan menunggu sampai kamu merasa berlebih dulu.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 7, halaman 211. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=4875

Lihat naskah Arabnya

جَاءَ سُلَيْمَانُ بنُ المُغِيْرَةِ يَبْكِي، وَقَالَ: مَاتَ حِمَارِي، وَذَهَبت مِنِّي الجُمُعَةُ، وَذهَبَتْ حَوَائِجِي. قَالَ: بِكَمْ أَخَذْتَه؟ قَالَ: بِثَلاَثَةِ دَنَانِيْرَ. قَالَ شُعْبَةُ: فَعِنْدِي ثَلاَثَةُ دَنَانِيْرَ، وَاللهِ مَا أَملِكُ غَيْرَهَا، ثُمَّ دَفَعَهَا إِلَيْهِ.