Suatu hari, Abdullah bin Aun sedang berada di kamarnya. Ia adalah seorang ulama yang terkenal sangat menjaga adab kepada orang tuanya.
Tiba-tiba, dari ruangan lain, ibunya memanggil namanya. Suara ibunya lembut, dan jarak antara kamar mereka agak jauh.

Abdullah pun menjawab panggilan itu. Supaya terdengar oleh ibunya, ia menjawab dengan suara yang agak tinggi.
Begitu suaranya keluar, hatinya langsung tersentak. Ia sadar, nada suaranya ternyata melampaui suara ibunya yang lembut. Ia merasa bersalah, padahal ia tidak bermaksud membentak sama sekali.

Ia menyesal dengan sungguh-sungguh. Ia menangis dan memohon ampun kepada Allah, karena takut dianggap kurang sopan kepada ibunya.
Sebagai tebusan atas kekhilafan itu, ia memerdekakan dua orang pekerjanya. Tebusan itu sangat besar, tetapi baginya tidak ada yang lebih penting daripada menjaga adab kepada ibu.
Orang-orang yang mendengar kisah itu pun ikut merenung. Mereka menyadari bahwa menjaga adab kepada ibu bukanlah hal yang berat, tetapi harus dilatih setiap hari dengan sabar. Adab itu tampak dari cara kita menjawab panggilan, cara kita duduk di hadapan ibu, dan cara kita berbicara dengan suara yang lembut.
Sejak itu, kisah ini diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang-orang belajar bahwa adab kepada ibu dijaga sampai ke hal yang paling kecil, yaitu nada suara saat menjawab panggilannya.

Pesan untuk Kita
Berbakti kepada ibu bukan hanya soal perbuatan besar, tetapi juga soal nada suara yang lembut dan sikap yang sopan setiap hari. Kalau kita terlanjur bersuara keras, jangan malu untuk menyesal, meminta maaf, dan memperbaikinya dengan perbuatan baik.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: saat guru memanggil namamu, jawablah dengan suara yang jelas tetapi tetap sopan, bukan dengan berteriak.
- Di rumah: saat ibu atau ayah memanggilmu dari ruangan lain, datanglah mendekat dan jawablah dengan lembut, jangan berteriak dari jauh.
- Di mana saja: kalau kamu terlanjur bersuara keras kepada orang tua, segeralah meminta maaf dengan tulus dan tunjukkan penyesalanmu dengan sikap yang lebih baik.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 6, halaman 366. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=4616
Lihat naskah Arabnya
وَعَنِ ابْنِ عَوْنٍ: أَنَّ أُمَّهُ نَادَتْهُ، فَأَجَابَهَا، فَعَلاَ صَوْتُهُ صَوْتَهَا، فَأَعتقَ رَقَبَتَيْنِ.