Di kota Madinah, hiduplah dua bersaudara. Yang satu bernama Umar, yang satu lagi bernama Muhammad bin al-Munkadir. Mereka berdua sama-sama ingin mengisi malam dengan kebaikan.
Suatu malam, Umar menghabiskan malamnya dengan shalat. Ia berdiri lama, membaca dengan khusyuk, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Malam itu terasa tenang dan penuh ibadah.

Di ruangan lain, Muhammad duduk di sisi tempat tidur ibunya. Ibunya sudah lelah setelah seharian bekerja. Muhammad memijat kaki ibunya dengan lembut, pelan-pelan, sampai ibunya tertidur dengan nyaman.
Malam itu berjalan pelan. Umar terus shalat. Muhammad terus memijat. Dua kebaikan yang berbeda, tapi sama-sama indah.
Lampu minyak di rumah itu menyala redup sepanjang malam. Suasana rumah terasa damai, karena setiap penghuninya sedang melakukan kebaikan dengan caranya sendiri.

Keesokan harinya, orang-orang memuji Umar karena shalat malamnya yang panjang. Muhammad mendengar pujian itu dan tersenyum. Ia berkata dengan tulus, “Aku tidak ingin menukar malamku yang memijat kaki ibu dengan malam shalat saudaraku.”
Muhammad tahu, membahagiakan ibu adalah ibadah yang sangat agung. Ibu yang tertidur dengan tenang karena pijatan anaknya adalah pemandangan yang membahagiakan hati.
Sejak itu, kisah dua bersaudara ini selalu diceritakan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa berbakti kepada orang tua bukan ibadah kecil. Kadang, kebaikan yang paling dekat justru ada di rumah kita sendiri.

Pesan untuk Kita
Ibadah tidak hanya ada di tempat ibadah. Menyenangkan hati ibu dan ayah, membantu mereka beristirahat, dan membuat mereka tersenyum juga ibadah yang besar.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: hormati guru seperti menghormati orang tua, dengarkan nasihatnya dan ucapkan terima kasih.
- Di rumah: kalau ibu atau ayah terlihat lelah, tawarkan bantuan kecil, misalnya memijat pundak atau kaki dengan lembut, atau menyiapkan air minum.
- Di mana saja: ucapkan kata-kata yang menyenangkan hati orang tua setiap hari, dan jangan membantah dengan suara keras.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 5, halaman 359. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=4131
Lihat naskah Arabnya
قَالَ ابْنُ المُنْكَدِرِ: بَاتَ أَخِي عُمَرُ يُصَلِّي، وَبِتُّ أَغمِزُ قَدَمَ أُمِّي، وَمَا أُحِبُّ أَنَّ لَيْلَتِي بِلَيْلَتِهِ.