Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Mahar Dua Dirham

Mahar Dua Dirham
Bagikan Artikel

Sa’id bin al-Musayyab adalah seorang guru besar di kota Madinah. Ia terkenal karena ilmunya, kejujurannya, dan hidupnya yang sederhana.

Sa’id mempunyai seorang putri yang salehah, cerdas, dan hafal Al-Qur’an. Banyak orang menghormati keluarga ini karena akhlaknya yang baik.

Guru tua dari belakang mengajar anak-anak di serambi rumah batu
Sa’id adalah guru besar yang hidup sederhana di Madinah.

Suatu hari, datanglah lamaran dari keluarga penguasa untuk putra mahkota. Lamaran itu membawa janji kemewahan istana yang berlimpah, harta yang banyak, dan hidup yang serba mewah.

Dengan sopan, Sa’id menolak lamaran itu. Ia khawatir putrinya akan terlena oleh gemerlap dunia, lalu lupa pada kesederhanaan dan ketenangan hidup yang selama ini dijaga keluarganya.

Di sisi lain, ada seorang muridnya bernama Abu Wada’ah. Ia adalah pemuda yang berakhlak mulia, rajin belajar, dan hidup serba kekurangan di rumah kecilnya.

Pria berjubah dari belakang menyerahkan dua koin kecil kepada pemuda
Sa’id memilih akhlak mulia, bukan harta yang berlimpah.

Sa’id justru memilih Abu Wada’ah. Ia menikahkan putrinya dengan pemuda itu hanya dengan mahar dua dirham, yaitu pemberian yang sangat kecil nilainya.

Banyak orang yang mendengar pilihan itu lalu bertanya-tanya dalam hati. Mereka akhirnya mengerti bahwa Sa’id tidak sedang meremehkan putrinya. Ia justru sedang menjaga putrinya dengan cara yang paling baik, yaitu memilihkan pendamping yang berakhlak mulia dan hidup sederhana. Harta bisa dicari bersama, tetapi akhlak yang baik tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun.

Pilihan itu membuat banyak orang terkejut, lalu mengerti. Bagi Sa’id, akhlak yang mulia jauh lebih berharga daripada tumpukan harta. Kemewahan bisa habis, tetapi akhlak yang baik akan menemani seumur hidup.

Pemuda dan lelaki tua berjalan tenang di gang desa sore hari
Akhlak yang baik menemani seumur hidup.

Pesan untuk Kita

Kebaikan seseorang tidak diukur dari banyaknya harta atau mewahnya penampilan. Akhlak yang mulia, kejujuran, dan kesederhanaan jauh lebih berharga, dan itulah yang pantas kita cari pada diri sendiri maupun pada teman.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: jangan memilih teman hanya karena ia kaya atau barangnya mewah, pilihlah teman yang jujur, sopan, dan suka menolong.
  • Di rumah: syukuri barang yang sudah dimiliki, dan jangan memaksa orang tua membeli barang mahal hanya supaya terlihat hebat.
  • Di mana saja: saat memuji seseorang, pujilah akhlaknya, misalnya karena ia jujur atau suka menolong, bukan karena barang yang ia pakai.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 4, halaman 233. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=3386

Lihat naskah Arabnya

أَنَّ سَعِيْدَ بنَ المُسَيِّبِ زَوَّجَ ابْنَتَهُ بِدِرْهَمَيْنِ.