Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Kotak Lima Ratus Koin Palsu

Kotak Lima Ratus Koin Palsu
Bagikan Artikel

Muhammad bin Sirin adalah seorang pedagang kain di pasar Basrah. Setiap hari, ia melayani banyak pembeli dengan ramah dan jujur.

Saat berdagang, ia kerap mendapati pembeli yang membayar dengan koin perak palsu atau rusak. Kadang pembeli itu tidak sengaja, kadang ia tidak sadar bahwa koinnya bermasalah.

Pedagang berjubah dari belakang melayani pembeli di kios kain
Ibnu Sirin adalah pedagang kain yang jujur di pasar Basrah.

Kebanyakan pedagang lain punya cara yang mudah untuk menghindari rugi. Mereka segera membelanjakan koin palsu itu kembali kepada orang lain, supaya kerugiannya berpindah ke orang lain.

Tetapi Muhammad bin Sirin menolak keras cara itu. Ia tidak mau mencurangi orang lain, meskipun ia sendiri yang harus menanggung rugi.

Setiap kali menerima koin palsu, ia menyimpannya ke dalam sebuah kotak khusus di rumahnya. Koin itu tidak ia belanjakan, tidak ia berikan kepada siapa pun, dan tidak ia campur dengan koin yang asli.

Pria berjubah dari belakang menyimpan koin ke dalam kotak kayu
Koin palsu itu tidak dibelanjakan, melainkan disimpan di kotak.

Tahun demi tahun berlalu, kotak itu semakin penuh. Hingga saat beliau wafat, di dalam kotak itu terkumpul lima ratus koin palsu dan rusak.

Orang-orang yang mendengar kisah kotak itu pun ikut merenung. Mereka menyadari bahwa kejujuran memang kadang terasa berat di awal, karena harus menanggung rugi sendiri. Tetapi kejujuran itu membuat hati menjadi tenang, karena tidak ada orang lain yang dirugikan oleh perbuatan kita.

Lima ratus koin itu adalah bukti kejujurannya. Ia lebih memilih rugi sendiri daripada merugikan orang lain, dan ia memegang kejujuran itu sampai akhir hayatnya.

Pria berjubah berjalan tenang membawa kain di gang desa sore hari
Ia rela rugi sendiri daripada merugikan orang lain.

Pesan untuk Kita

Kejujuran berarti tidak memindahkan kerugian kita kepada orang lain, meskipun itu cara yang paling mudah. Orang yang jujur rela menanggung rugi sendiri, karena ia tahu bahwa keuntungan yang didapat dengan cara curang tidak akan pernah membawa berkah.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau kamu menerima barang yang rusak dari teman, jangan diberikan lagi kepada teman lain, kembalikan dengan jujur dan ceritakan keadaannya.
  • Di rumah: kalau kamu menemukan uang atau barang yang bukan milikmu, jangan dipakai sendiri, serahkan kepada orang tua dan cari pemiliknya.
  • Di mana saja: kalau kamu tahu sesuatu itu palsu atau rusak, jangan menyembunyikannya supaya orang lain tertipu, katakan dengan jujur sejak awal.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 4, halaman 620. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=3773

Lihat naskah Arabnya

كَانَ ابْنُ سِيْرِيْنَ إِذَا وَقَعَ عِنْدَهُ دِرْهَمُ زَيْفٍ أَوْ سُتُّوْقٍ، لَمْ يَشْتَرِ بِهِ، فَمَاتَ يَوْمَ مَاتَ وَعِنْدَهُ خَمْسُ مائَةٍ زُيُوْفًا وَسُتُّوْقَةً.