Thalhah bin Ubaidillah adalah sahabat yang terkenal dermawan. Suatu hari, ia menerima keuntungan berniaga yang sangat besar. Uang itu dibawa ke rumahnya dan menumpuk di kamarnya. Jumlahnya mencapai ratusan ribu keping dirham.
Malam itu, Thalhah tidak bisa tidur. Ia terus membolak-balikkan badannya di atas ranjang. Wajahnya gelisah, dan matanya tidak mau terpejam.

Istrinya melihat kegelisahan itu dan bertanya dengan lembut, “Ada apa denganmu malam ini?”
Thalhah menjawab dengan jujur, “Aku memikirkan hal ini sejak malam tiba. Bagaimana mungkin seseorang bisa tidur nyenyak, sementara harta sebanyak ini masih tersimpan di rumahnya?”

Ia merasa malu kepada Allah. Di luar sana, ada tetangga yang lapar dan membutuhkan. Bagaimana ia bisa beristirahat dengan tenang, sementara uang itu belum dibagikan kepada mereka yang berhak?
Thalhah membayangkan tetangganya yang sedang kelaparan di malam yang dingin. Bayangan itu membuatnya semakin tidak tenang, sampai ia bertekad membagikan harta itu begitu pagi tiba.
Keesokan paginya, saat fajar menyingsing, Thalhah tidak menunda lagi. Ia memanggil pelayannya dan meminta dibawakan beberapa bejana besar. Ia membagikan seluruh uang itu kepada orang-orang yang membutuhkan, sampai habis tak bersisa.
Malam berikutnya, Thalhah tidur dengan tenang. Hartanya sudah tidak menumpuk di rumah. Hartanya sudah berubah menjadi kebaikan bagi banyak orang.
Kisah ini mengajarkan bahwa harta yang ditahan bisa menjadi beban. Harta yang dibagikan dengan ikhlas justru menjadi ketenangan.

Pesan untuk Kita
Orang dermawan gelisah bukan karena hartanya sedikit, tapi karena hartanya belum sampai kepada yang membutuhkan. Memberi dengan segera, tanpa ditunda, adalah cara menjaga hati tetap tenang.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau kamu punya makanan atau alat tulis berlebih, bagikan kepada teman yang membutuhkan, jangan ditumpuk di laci.
- Di rumah: kalau punya pakaian atau mainan yang sudah tidak dipakai tapi masih bagus, kumpulkan dan serahkan kepada orang tua untuk dibagikan.
- Di mana saja: kalau berniat bersedekah, lakukan segera, jangan menunggu sampai lupa.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 1, halaman 31. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=1457
Lihat naskah Arabnya
جَاءهُ مَالٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ سَبْعُ مَائَةِ أَلْفٍ، فَبَاتَ لَيْلَتَهُ يَتَمَلْمَلُ. فَقَالَتْ لَهُ زَوْجَتُهُ: مَا لَكَ؟ قَالَ: تَفَكَّرْتُ مُنْذُ اللَّيْلَةِ، فَقُلْتُ: مَا ظَنُّ رَجُلٍ بِرَبِّهِ يَبِيْتُ وَهَذَا المَالُ فِي بَيْتِهِ؟