Abu Umair adalah anak kecil yang tinggal di Madinah. Ia mempunyai seekor burung pipit mungil yang sangat ia sayangi. Burung itu bernama Nughair.
Setiap hari, Abu Umair bermain dengan Nughair. Ia memberi makan dan menjaganya dengan senang hati. Burung kecil itu menjadi teman bermainnya yang paling akrab.

Suatu hari, Nughair mati. Abu Umair sangat sedih. Ia duduk termenung di sudut rumah. Matanya berkaca-kaca dan senyumnya hilang. Hari itu terasa sepi baginya.
Lalu datanglah seorang tamu yang sangat ia hormati. Tamu itu melihat Abu Umair yang sedang bersedih. Ia tidak mengabaikan kesedihan anak kecil itu. Ia mendekat, mengusap kepala Abu Umair dengan lembut, lalu menyapanya dengan gurauan hangat, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan burung pipit kecilmu?”

Sapaan itu membuat Abu Umair merasa diperhatikan. Kesedihannya perlahan terhibur. Ia tahu, ada orang dewasa yang peduli pada perasaannya, walau ia masih anak kecil dan yang hilang hanyalah seekor burung pipit.
Abu Umair mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. Ia merasa sapaan itu seperti pelukan yang hangat, yang membuat hatinya tidak lagi sendirian dalam kesedihan.
Sejak itu, kisah ini selalu diceritakan. Kisah ini mengajarkan bahwa kesedihan anak kecil itu penting. Menghibur orang yang bersedih, walau dengan sapaan sederhana, adalah bentuk kasih sayang yang besar.

Hari itu menjadi kenangan yang indah.
Pesan untuk Kita
Orang dewasa yang baik tidak menyepelekan perasaan anak kecil. Dan anak yang baik belajar menghibur temannya yang sedang sedih, bukan menertawakannya.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau temanmu sedih karena kehilangan sesuatu, duduklah di dekatnya dan hibur dengan kata-kata yang lembut.
- Di rumah: kalau adikmu menangis, jangan diejek. Dengarkan dulu, lalu bantu ia merasa tenang.
- Di mana saja: kalau melihat hewan peliharaan teman sakit atau mati, ucapkan kata-kata yang menenangkan, bukan candaan yang menyakitkan.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 2, halaman 306. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=2286
Lihat naskah Arabnya
كَانَ النَّبِيُّ -ﷺ- يَمْسَحُ رَأْسَهُ، وَيَقُوْلُ: (يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟)