Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Burung Pipit Kecil Abu Umair

Burung Pipit Kecil Abu Umair
Bagikan Artikel

Abu Umair adalah anak kecil yang tinggal di Madinah. Ia mempunyai seekor burung pipit mungil yang sangat ia sayangi. Burung itu bernama Nughair.

Setiap hari, Abu Umair bermain dengan Nughair. Ia memberi makan dan menjaganya dengan senang hati. Burung kecil itu menjadi teman bermainnya yang paling akrab.

Anak kecil dari belakang memberi makan burung pipit di halaman rumah
Abu Umair sangat menyayangi burung pipit kecilnya, Nughair.

Suatu hari, Nughair mati. Abu Umair sangat sedih. Ia duduk termenung di sudut rumah. Matanya berkaca-kaca dan senyumnya hilang. Hari itu terasa sepi baginya.

Lalu datanglah seorang tamu yang sangat ia hormati. Tamu itu melihat Abu Umair yang sedang bersedih. Ia tidak mengabaikan kesedihan anak kecil itu. Ia mendekat, mengusap kepala Abu Umair dengan lembut, lalu menyapanya dengan gurauan hangat, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan burung pipit kecilmu?”

Sangkar burung kosong dengan cahaya lembut dari pintu lengkung
Nughair sudah tiada, dan Abu Umair duduk bersedih.

Sapaan itu membuat Abu Umair merasa diperhatikan. Kesedihannya perlahan terhibur. Ia tahu, ada orang dewasa yang peduli pada perasaannya, walau ia masih anak kecil dan yang hilang hanyalah seekor burung pipit.

Abu Umair mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. Ia merasa sapaan itu seperti pelukan yang hangat, yang membuat hatinya tidak lagi sendirian dalam kesedihan.

Sejak itu, kisah ini selalu diceritakan. Kisah ini mengajarkan bahwa kesedihan anak kecil itu penting. Menghibur orang yang bersedih, walau dengan sapaan sederhana, adalah bentuk kasih sayang yang besar.

Anak kecil dari belakang tersenyum sambil memegang sangkar di halaman
Sapaan hangat menghibur hati Abu Umair yang sedang bersedih.

Hari itu menjadi kenangan yang indah.

Pesan untuk Kita

Orang dewasa yang baik tidak menyepelekan perasaan anak kecil. Dan anak yang baik belajar menghibur temannya yang sedang sedih, bukan menertawakannya.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau temanmu sedih karena kehilangan sesuatu, duduklah di dekatnya dan hibur dengan kata-kata yang lembut.
  • Di rumah: kalau adikmu menangis, jangan diejek. Dengarkan dulu, lalu bantu ia merasa tenang.
  • Di mana saja: kalau melihat hewan peliharaan teman sakit atau mati, ucapkan kata-kata yang menenangkan, bukan candaan yang menyakitkan.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 2, halaman 306. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=2286

Lihat naskah Arabnya

كَانَ النَّبِيُّ -ﷺ- يَمْسَحُ رَأْسَهُ، وَيَقُوْلُ: (يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟)