Suatu hari, Dzun Nun al-Mishri duduk di bawah pepohonan. Ia suka merenung dan memperhatikan alam di sekitarnya. Hari itu, ia melihat sesuatu yang membuatnya iba.
Seekor anak burung pipit kecil jatuh dari sarangnya ke tanah. Burung itu buta dan lemah. Ia tidak bisa melihat jalan, dan tidak bisa mencari makan sendiri.

Dzun Nun memikirkan burung kecil itu. Bagaimana mungkin makhluk yang begitu lemah bisa hidup di alam liar? Siapa yang akan memberinya makan dan minum?
Tiba-tiba, di hadapan burung itu, tanah seolah terbuka. Tampak dua wadah kecil. Satu wadah berisi biji wijen, dan satu wadah lagi berisi air bersih. Burung kecil itu mematuk biji-bijian dan meminum airnya sampai kenyang.

Dzun Nun menyaksikan semua itu dengan takjub. Ia berkata dalam hatinya, “Cukuplah ini bagiku.” Ia sadar, Allah tidak pernah meninggalkan makhluk-Nya, bahkan yang paling lemah sekalipun.
Ia duduk lama di bawah pohon itu sambil memandangi burung kecil yang kini sudah kenyang. Hatinya terasa lapang, seolah beban yang lama ia pikul perlahan terangkat dari pundaknya.
Sejak hari itu, Dzun Nun bertekad untuk selalu berprasangka baik kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya. Kalau burung kecil yang buta saja diberi rezeki, apalagi manusia yang bisa berusaha dan berdoa.
Kisah ini bukan cerita tentang burung saja. Kisah ini tentang hati yang belajar percaya bahwa rezeki sudah diatur, dan tugas kita adalah berusaha sambil bertawakkal.

Pesan untuk Kita
Jangan putus asa saat merasa lemah atau kecil. Allah memelihara semua makhluk-Nya. Tugas kita adalah berusaha, berdoa, dan berprasangka baik, bukan mengeluh dan menyerah.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: kalau tugas terasa sulit, jangan langsung menyerah. Coba dulu selangkah demi selangkah, lalu minta bantuan guru.
- Di rumah: kalau ada hal yang belum tercapai, tetap berusaha dan berdoa, jangan mengeluh sepanjang hari.
- Di mana saja: kalau melihat hewan yang lapar atau haus, beri sedikit makanan atau air bersih dengan izin orang tua.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 11, halaman 534. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=7472
Lihat naskah Arabnya
قَالَ: قُنْبَرَةٌ عَمْيَاءُ سَقَطَتْ مِنْ وَكْرٍ، فَانْشَقَّتِ الأَرْضُ، فَخَرَجَ مِنْهَا سُكُرُّجَتَانِ ذَهَبٌ وَفِضَّةٌ، فِي إِحْدَاهُمَا سِمْسِمٌ، وَفِي الأُخْرَى مَاءٌ، فَأَكَلَتْ، وَشَرِبَتْ، فَقُلْتُ: حَسْبِي. فَتُبْتُ.