Muhammad bin Sirin adalah seorang ulama besar dan guru yang disegani. Di majelis ilmunya, suaranya tegas dan jelas, dan murid-muridnya mendengarkan dengan penuh hormat.
Namun, ketika beliau pulang ke rumah dan duduk di hadapan ibunya, sikapnya berubah sama sekali. Suaranya menjadi sangat pelan, lirih, dan santun. Ia menjawab setiap perkataan ibunya dengan penuh ketundukan.

Murid-muridnya menceritakan hal yang menarik. Jika ada orang asing yang belum mengenalnya melihat beliau berbicara dengan ibunya, orang itu pasti mengira Muhammad bin Sirin sedang sakit parah.
Mengapa begitu? Karena suaranya yang begitu pelan membuat orang menyangka ia sedang demam atau tidak bertenaga. Padahal, ia sehat-sehat saja. Ia hanya sedang menjaga adab di depan ibunya.

Ibunya tersenyum mendengar jawaban anaknya yang lembut. Hatinya terasa tenang, karena anaknya yang besar dan dihormati banyak orang itu tetap merendahkan diri di hadapannya.
Murid-muridnya pun semakin menghormati gurunya setelah mendengar cerita itu. Mereka menyadari bahwa ilmu yang tinggi tidak membuat seseorang tinggi hati di rumah. Justru, semakin tinggi ilmunya, semakin lembut pula sikapnya kepada orang tuanya, karena ia tahu betapa besar jasa mereka.
Kisah ini mengajarkan kita sesuatu yang sederhana tetapi dalam. Kehebatan seseorang tidak diukur dari kerasnya suara di depan banyak orang, tetapi dari lembutnya sikap di depan orang tuanya sendiri.

Pesan untuk Kita
Berbakti kepada orang tua tampak pada hal yang kecil, yaitu suara yang lirih dan sikap yang santun saat berbicara dengan mereka. Orang yang hebat di luar rumah harus tetap rendah hati di dalam rumah, terutama di hadapan ibu dan ayahnya.
Yuk, coba di sekolah dan di rumah
- Di sekolah: saat berbicara dengan guru, pakailah suara yang sopan dan kalimat yang santun, jangan membentak atau memotong pembicaraan.
- Di rumah: saat berbicara dengan ibu atau ayah, turunkan suaramu, dengarkan sampai selesai, lalu jawablah dengan pelan dan hormat.
- Di mana saja: saat berbicara dengan orang yang lebih tua, jangan meninggikan suara untuk menunjukkan bahwa kamu benar, tunjukkan kebenaranmu dengan sikap yang tenang.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabi, Juz 4, halaman 620. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=3773
Lihat naskah Arabnya
أَنَّ مُحَمَّدًا كَانَ إِذَا كَانَ عِنْدَ أُمِّهِ لَوْ رَآهُ رَجُلٌ لاَ يَعْرِفُهُ، ظَنَّ أَنَّ بِهِ مَرَضًا مِنْ خَفْضِ كَلاَمِهِ عِنْدَهَا.