Pernahkah kalian merasa suatu pelajaran terasa sangat sulit, sampai rasanya ingin menyerah? Jangan khawatir, seorang ahli bahasa bernama Yahya al-Nahwi pun pernah mengalaminya.

Dahulu Yahya ingin menuntut ilmu tapi merasa tidak berhasil. Ia hampir putus asa. Suatu hari, sambil berbaring merenung, ia melihat seekor semut kecil berusaha memanjat tembok batu.

Semut itu naik satu-dua hasta, lalu jatuh. Ia memanjat lagi, jatuh lagi. Yahya menghitungnya: satu kali, dua kali, sepuluh kali, sampai empat puluh kali semut itu jatuh dan bangkit lagi. Dan pada akhirnya, semut itu berhasil sampai ke puncak tembok!
Melihat itu, Yahya tersentak: semut sekecil ini saja tidak putus asa, masa aku yang diberi akal gampang menyerah? Ia pun kembali belajar dengan sungguh-sungguh sampai akhirnya berhasil menjadi ahli bahasa.

Pesan untuk Kita
Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak yang terlalu cepat menyerah. Jika belum paham, ulangi lagi, coba lagi, dan tanyakan kepada guru sampai bisa.
Yuk, Coba di Sekolah dan di Rumah!
- Kalau belum paham suatu pelajaran, ulangi dan tanyakan kepada guru sampai paham.
- Hafalan yang sulit diulang sedikit demi sedikit setiap hari.
- Kalau gagal sekali, coba lagi besok. Jangan langsung berkata “aku tidak bisa”.
Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)
Bagian ini bukan tugas baca anak. Rujukan: Ali al-Thantawi, Nur wa Hidayah, Juz 1, hlm. 136 (kisah dalam biografi Yahya al-Nahwi). Verifikasi naskah di Turath.io
Ringkasan Naskah Asli Bahasa Arab (Untuk Verifikasi Ilmiah)
فرأى نملة تحاول أن تصعد الجدار، فإذا بلغت ذراعًا أو ذارعين سقطت، فعاودت الصعود ثم سقطت، فعدّ عليها أربعين مرة حتى وصلت إلى أعلى الجدار.