Langsung ke konten

Selamat datang di MI Almaarif 02 Singosari

0341-451542mia02sgs@gmail.com

Timbangan yang Tidak Boleh Curang

Timbangan yang Tidak Boleh Curang
Bagikan Artikel

Di kota Basrah hiduplah seorang ulama besar bernama Imam Syu’bah. Ia terkenal sangat teliti dalam memilih kabar. Sebelum menyampaikan sebuah kabar kepada murid-muridnya, ia selalu memeriksa dulu siapa orang yang membawanya. Baginya, kabar yang benar hanya pantas datang dari orang yang jujur.

Suatu hari, seorang murid memberanikan diri bertanya. Wahai guru, mengapa engkau tidak pernah menyampaikan kabar dari Abu Zubair? Imam Syu’bah menjawab dengan tenang. Aku pernah melihatnya di pasar. Ia sedang menimbang dagangan, lalu menekan timbangan supaya barang yang diterima pembeli lebih sedikit daripada yang sudah dibayar.

Ulama dari belakang berjalan di gang pasar kota Basrah
Imam Syu’bah terkenal sangat teliti dalam memilih kabar.

Murid itu terdiam mendengarnya. Imam Syu’bah melanjutkan penjelasannya. Orang yang berani curang dalam timbangan kecil di pasar, bagaimana aku bisa mempercayai kabarnya yang besar? Kejujuran itu satu paket. Siapa yang curang dalam jual beli, bisa saja curang dalam menyampaikan kabar.

Pedagang menekan timbangan di kios pasar, diperhatikan dari kejauhan
Imam Syu’bah melihat pedagang itu menekan timbangan di pasar.

Karena itu Imam Syu’bah meninggalkan kabar dari orang tersebut. Ia tidak marah dan tidak mencaci. Ia hanya menjaga murid-muridnya dari kabar yang sumbernya tidak jujur. Sikap itu membuat murid-muridnya semakin hormat kepadanya.

Sejak hari itu, muridnya selalu ingat pesan ini. Jujurlah dalam hal kecil, karena hal kecil menunjukkan isi hati. Timbangan di pasar mungkin kecil, tetapi kejujuran di sana jauh lebih besar nilainya.

Kisah ini mengajarkan kita untuk jujur di mana saja. Di kelas, di rumah, dan di tempat bermain. Orang yang jujur dalam hal kecil akan dipercaya dalam hal besar.

Guru dari belakang mengajar murid-murid di serambi rumah batu
Kejujuran dalam hal kecil adalah pintu kejujuran dalam hal besar.

Pesan untuk Kita

Kejujuran tidak bisa dipilih-pilih. Orang yang jujur dalam hal kecil akan dipercaya dalam hal besar, dan orang yang curang dalam hal kecil sulit dipercaya dalam hal apa pun.

Yuk, coba di sekolah dan di rumah

  • Di sekolah: kalau mengerjakan tugas, tulis jawaban sendiri dengan jujur, jangan mencontek dan jangan mengaku hasil kerja teman sebagai hasil sendiri.
  • Di rumah: kalau menimbang atau membagi makanan bersama adik dan kakak, bagilah dengan adil, jangan diam-diam mengambil bagian lebih banyak.
  • Di mana saja: kalau mendengar kabar dari teman, periksa dulu kebenarannya sebelum ikut menyebarkan, dan jangan menambah-nambah cerita yang belum pasti.

Sumber (Catatan untuk Guru dan Orang Tua)

Kisah ini bersumber dari kitab Siyar A’lam an-Nubala karya Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi, Juz 7, halaman 209. Verifikasi naskah di Turath.io: https://app.turath.io/book/10906?page=4873

Lihat naskah Arabnya

قُلْتُ لِشُعْبَةَ: لِمَ تَرَكتَ حَدِيْثَ أَبِي الزُّبَيْرِ؟ قَالَ: رَأَيتُهُ يَزِنُ، فَاسْتَرجَحَ فِي المِيْزَانِ، فَتَرَكْتُهُ.